Pacaran saat ini telah menjadi hal yang sangat lumrah di kalangan anak muda. Bahkan, tidak jarang orang-orang yang tidak berpacaran dicemooh dan diolok-olok oleh mereka yang memilih pacaran. Hal inilah yang kemudian membuat sebagian orang memilih bergerilya mencari pasangan yang sesuai untuk kemudian dipacari.
Proses hubungan asmara
Dalam
menjalin proses pacaran, ada ungkapan yang biasanya disampaikan laki-laki
kepada perempuan yang hendak dipacari. Terdapat berbagai versi ungkapan yang
dapat disampaikan laki-laki untuk mengungkapkan perasaan dan menyampaikan niat
untuk memacari seseorang. Namun, ungkapan yang (menurut penulis) paling umum
adalah “mau nggak kamu jadi pacarku?”
Biasanya, seseorang mengungkapkan perasaannya disertai dengan hal-hal lain yang berpotensi menjadikan suasana lebih romantis, seperti membawa seikat bunga atau sebatang coklat, atau hal-hal lain yang dianggap dapat meromantisasi suasana sehingga meningkatkan potensi diterimanya seseorang yang mengungkapkan perasaannya.
Ragam-ragam penolakan cinta
Namun, walaupun seorang laki-laki berusaha
sebaik mungkin dalam meromantisasi pengungkapan cinta, kalau perempuan yang
dituju tidak sreg, tentu saja akan ditolak, terlebih kalau ternyata perempuan
yang dituju sudah punya pacar, kan malah jadi repot kalau diterima.
Sebagai manusia yang sangat melibatkan perasaan, perempuan tentu tidak enak hati jika penolakan yang ia sampaikan dapat melukai perasaan laki-laki yang mengungkapkan perasaan kepadanya. Biasanya perempuan akan berkelit dengan narasi-narasi penolakan yang cenderung halus dan sedikit lebih sopan. Beberapa di antaranya seperti “maaf, tapi kamu terlalu baik untuk aku”, “aku sekarang mau fokus studi dulu”, “maaf, tapi kamu sepertinya bisa cari yang lebih baik dari aku”, dan lain-lain.
Opsi baru Narasi penolakan
Walau
narasi-narasi di atas cenderung halus daripada penolakan secara langsung, namun
tetap saja hal tersebut menyakitkan bagi laki-laki yang mengungkapkan
perasaannya, terlebih jika diungkapkan di khalayak ramai. Penolakan itu terasa
menyakitkan karena narasi-narasi tersebut sudahlah sangat umum, sehingga
walaupun secara narasi cenderung sedikit lebih sopan, penolakan dengan
narasi-narasi tersebut tetaplah menyakitkan menurut logika laki-laki.
Melihat
fenomena berikut, sebagai seorang laki-laki yang peduli dengan sesama ras
laki-laki, penulis akan menawarkan narasi penolakan (yang menurut penulis)
tidak akan membuat laki-laki terluka begitu dalam. Opsi ini didasari dengan
pengalaman kerabat penulis, sebut saja Setya (bukan nama asli).
Setya dan penolakan asrama
Setya
adalah kerabat penulis yang juga merupakan mahasiswa salah satu Universitas
Negeri di Yogyakarta. Secara penampilan ia dapat dikategorikan sebagai pemuda
yang tidak terlalu jelek namun juga tidak termasuk dalam kategori tampan.
Nahasnya, setelah beberapa waktu lalu hubungannya kandas, baru saja ia
mengalami pil pahit lagi perihal asmara, yaitu ia ditolak oleh seorang
perempuan yang telah lama ia kagumi.
Lama sekali ia memendam rasa, lama juga ia
mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaan, tapi ternyata Dewi
Fortuna tidak berpihak kepadanya, ia ditolak oleh perempuan yang telah lama ia
kagumi. Sudah hubungan kandas, ingin memulai hubungan baru dengan orang baru
pun ditolak. Ah..., nampaknya Setya bukanlah seseorang yang beruntung dalam
karir asmaranya.
Bersambung....

Kasihan Setya
BalasHapus