Minggu, 29 Desember 2024

Opsi ungkapan penolakan cinta yang lumayan epic, tidak menyakiti, dan bisa dijadikan opsi

 


            Pacaran saat ini telah menjadi hal yang sangat lumrah di kalangan anak muda. Bahkan, tidak jarang orang-orang yang tidak berpacaran dicemooh dan diolok-olok oleh mereka yang memilih pacaran. Hal inilah yang kemudian membuat sebagian orang memilih bergerilya mencari pasangan yang sesuai untuk kemudian dipacari.

Proses hubungan asmara

            Dalam menjalin proses pacaran, ada ungkapan yang biasanya disampaikan laki-laki kepada perempuan yang hendak dipacari. Terdapat berbagai versi ungkapan yang dapat disampaikan laki-laki untuk mengungkapkan perasaan dan menyampaikan niat untuk memacari seseorang. Namun, ungkapan yang (menurut penulis) paling umum adalah “mau nggak kamu jadi pacarku?”

            Biasanya, seseorang mengungkapkan perasaannya disertai dengan hal-hal lain yang berpotensi menjadikan suasana lebih romantis, seperti membawa seikat bunga atau sebatang coklat, atau hal-hal lain yang dianggap dapat meromantisasi suasana sehingga meningkatkan potensi diterimanya seseorang yang mengungkapkan perasaannya.

Ragam-ragam penolakan cinta

            Namun, walaupun seorang laki-laki berusaha sebaik mungkin dalam meromantisasi pengungkapan cinta, kalau perempuan yang dituju tidak sreg, tentu saja akan ditolak, terlebih kalau ternyata perempuan yang dituju sudah punya pacar, kan malah jadi repot kalau diterima.

            Sebagai manusia yang sangat melibatkan perasaan, perempuan tentu tidak enak hati jika penolakan yang ia sampaikan dapat melukai perasaan laki-laki yang mengungkapkan perasaan kepadanya. Biasanya perempuan akan berkelit dengan narasi-narasi penolakan yang cenderung halus dan sedikit lebih sopan. Beberapa di antaranya seperti “maaf, tapi kamu terlalu baik untuk aku”, “aku sekarang mau fokus studi dulu”, “maaf, tapi kamu sepertinya bisa cari yang lebih baik dari aku”, dan lain-lain.

Opsi baru Narasi penolakan

            Walau narasi-narasi di atas cenderung halus daripada penolakan secara langsung, namun tetap saja hal tersebut menyakitkan bagi laki-laki yang mengungkapkan perasaannya, terlebih jika diungkapkan di khalayak ramai. Penolakan itu terasa menyakitkan karena narasi-narasi tersebut sudahlah sangat umum, sehingga walaupun secara narasi cenderung sedikit lebih sopan, penolakan dengan narasi-narasi tersebut tetaplah menyakitkan menurut logika laki-laki.

            Melihat fenomena berikut, sebagai seorang laki-laki yang peduli dengan sesama ras laki-laki, penulis akan menawarkan narasi penolakan (yang menurut penulis) tidak akan membuat laki-laki terluka begitu dalam. Opsi ini didasari dengan pengalaman kerabat penulis, sebut saja Setya (bukan nama asli).

Setya dan penolakan asrama          

            Setya adalah kerabat penulis yang juga merupakan mahasiswa salah satu Universitas Negeri di Yogyakarta. Secara penampilan ia dapat dikategorikan sebagai pemuda yang tidak terlalu jelek namun juga tidak termasuk dalam kategori tampan. Nahasnya, setelah beberapa waktu lalu hubungannya kandas, baru saja ia mengalami pil pahit lagi perihal asmara, yaitu ia ditolak oleh seorang perempuan yang telah lama ia kagumi.

Lama sekali ia memendam rasa, lama juga ia mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaan, tapi ternyata Dewi Fortuna tidak berpihak kepadanya, ia ditolak oleh perempuan yang telah lama ia kagumi. Sudah hubungan kandas, ingin memulai hubungan baru dengan orang baru pun ditolak. Ah..., nampaknya Setya bukanlah seseorang yang beruntung dalam karir asmaranya.

 

Bersambung....


1 komentar:

Berebut menyeduh kopi hitam