Jumat, 29 November 2024

"Hijrah" sebagai alasan putus cinta memanglah epic, tapi kalau ternyata hijrahnya ke cowok lain? Anjir lah




sumber: gemini.ai

Beberapa waktu lalu, Tumin (bukan nama Asli) bercerita kepada saya tentang kisah asmaranya yang berakhir kandas menyakitkan. Tidak hanya kehilangan kekasih, Tumin bahkan kehilangan semangat untuk kembali merajut asmara. Ia merasa patah hati yang double kill pasca ditipu oleh mantan kekasihnya. Kalau kata Happy asmara begini, Ra sepirone loro ati iki amergo ditinggal pergi Tapi loro ati iki amergo dikhianati. Ya..., begitulah kiranya

Takdir yang memisahkan Jarak

Kata Tumin, ia dan kekasihnya adalah pasangan yang serasi dan sefrekuensi. Mereka mulai kenal dekat dan berpacaran saat masih kelas 10 SMA di kota yang sama, Sukoharjo. Saat masa putih abu-abu, mereka seperti pasangan yang sangat cocok, bahkan teman-teman mereka pun bahkan yakin bahwa mereka akan terus bersama-sama sampai di pelaminan. Tak berhenti sampai di situ, orang tua mereka pun sudah saling kenal selayaknya dua pasang orang tua yang sudah siap besanan. “Masa-masa itu, rasanya ngga ada yang lebih nikmat di dunia ini selain bersama Teni.” Ujar Tumin saat cerita ke saya sambil membayangkan masa-masa indahnya dulu.

Setelah kurang lebih bersama-sama selama tiga tahun, hubungan mereka mulai diuji. Bukan ujian akhir sekolah, tapi ujian akan masa depan mereka masing-masing. Saat itu, Tumin sangat menyesalkan takdir yang tampaknya tidak berpihak kepadanya. Ia harus melanjutkan studi di Jogja, sedangkan Teni melanjutkan kuliahnya di Semarang. LDR. Seperti itulah takdir memisahkan mereka.

Perjuangan Tumin LDR Jogja Semarang

Tahun pertama kuliah, Tumin sering sekali bolak-balik Jogja Semarang hanya untuk melepas rindu. Perjalanan 3-4 jam ia tempuh hanya untuk senyuman pujaan hati yang kata Tumin manisnya seperti sakarin, sangat manis dan membahayakan. Di sela-sela kesibukannya kuliah, ia selalu menyempatkan berkirim kabar meskipun hanya via whatsapp. “Mungkin gitu ya rasanya jadi budak cinta, kita ngga akan sadar sampai kita selesai melaluinya” Begitu kata Tumin saat cerita kepada saya.

Tahun kedua, Tumin juga masih sering bolak-balik Jogja Semarang. Meskipun frekuensinya tidak sesering tahun pertama. Tumin selalu menyempatkan menemui kekasihnya itu. Bahkan beberapa kali mereka sengaja janjian untuk ketemu di Sukoharjo (kota asal mereka) untuk bertemu dan melepas rindu. Sesekali juga Teni berkunjung ke Jogja untuk menikmati istimewanya kota itu dengan Tumin, kekasihnya yang tidak kalah istimewanya seperti Jogja.

Komitmen Teni yang Mulai Goyah

                Dua tahun menjalani masa LDR adalah masa-masa berat bagi mereka, sampai akhirnya mereka terbiasa dan mulai berdamai dengan keadaan. Pemikiran yang semakin dewasa dan kesibukan masing-masing menjadikan mereka pasangan yang semakin hari tidak lagi meributkan hal-hal kecil. Dulu, saat Tumin tidak berkabar saat main futsal, maka Teni akan marah dan ngamuk-ngamuk. Atau saat Teni pergi acara organisasi tanpa izin, Tumin akan membuat story whatsapp dengan kata-kata yang menyinggung. Tapi semakin kesini, mereka semakin sadar bahwa hal tersebut tidaklah perlu di besar-besarkan. Hubungan mereka relatif langgeng dan aman, sampai tiba-tiba suatu waktu Teni mengejutkan Tumin.

                “Mas kita putus aja ya” Tanpa mendung, tanpa gledek, Teni tiba-tiba minta putus. “Lho kenapa, mas salah apa emangnya?” Tumin tentu saja terkejut dengan pertanyaan yang bahkan tidak terperkirakan oleh BMKG itu. “Nggak salah, apa-apa kok mas. Aku Cuma mau putus aja, kita kan tau pacaran itu nggak baik. Dosa, tapi kenapa kita tetep ngelakuin. Aku mau hijrah mas, memperbaiki diri. Kita saling berdoa aja mas, kalau aku takdirmu, pasti kita akan berjodoh. Tapi kalau engga, pasti kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari aku. Sekarang aku mau fokus memantaskan diri mas. Tolong jangan larang aku untuk berusaha di jalan yang benar.” Permintaan Teni itu bagaikan petir yang menyambar kepala Tumin, menyakitkan, nyetrum, dan bahkan membuat perasaannya gosong seperti pantat panci.

                Meskipun begitu, Tumin tetap berusaha tenang dan berpikir positif. Saat itu ia berpikir bahwa ini adalah kode alam bahwa tuhan mengarahkannya untuk memperbaiki diri juga. Toh pacarku saja mau meng-upgrade diri kok, masa saya tetep gini-gini saja. Begitulah pikiran naif Tumin kala itu.

                “Oh yasudah dek, semoga itu yang terbaik. Doain ya, mas juga mau berusaha memperbaiki diri. Semoga nanti kita dipertemukan dalam kondisi yang sama-sama baik.” Begitu respon Tumin. Mereka pun saling sepakat untuk tidak berhubungan lagi bahkan sekedar memberi kabar via whatsapp. Berharap agar kelak nanti alam semesta memihak kepada mereka.

Hijrah sebagai tipu Daya mantan

Dua tahun berlalu, mereka akhirnya sama-sama lulus dari perguruan tinggi. Resmi menyandang gelar sarjana, membuat mereka dihadapkan dengan realita kehidupan yang lebih serius, bekerja dan menikah. Tumin yang masih dengan harapan dan perasaan yang sama terhadap Teni, berusaha menguhubungi dan mengajaknya ketemuan untuk sekedar melepas rindu dan mungkin sedikit live update setelah dua tahun sibuk dengan aktivitas masing-masing. Gayung bersambut, chat Tumin dibalas Teni, akhirnya mereka sepakat untuk ketemuan di Sukoharjo, kota asal mereka berdua.

Sampai waktu yang ditentukan tiba, mereka akhirnya kembali bertemu dengan kondisi yang saling pangling antar satu dengan yang lainnya. Teni lebih tampak berisi dari dua tahun silam, sedangkan Tumin tampak lebih kurus dengan rambut gondrongnya yang menjadi saksi bisu perjuangan dia mengerjakan skripsi.

“Lama nggak ketemu, kamu jadi pangling dek.” Tumin membuka obrolan. “Iya mas, kamu juga, lebih gagah dan berwibawa.” Tumin yang merasa dipuji menjadi tersepu malu, meskipun ia juga dalam hatinya berbangga diri. “Akhirnya kita bisa kembali bertemu dalam kondisi yang lebih baik ya” Tumin tidak merespon pujian Teni, ia mengalihkan topik yang menurutnya akan sangat krusial.

Sebetulnya pertemuan tersebut dilakukan Tumin bukan hanya sebatas baas-basi atau pertemuan senang-senang saja seperti masa-masa awal kuliah mereka. Waktu itu, Tumin ingin menyampaikan maksud baiknya untuk melamar Teni, perempuan yang ia cintai sejak bertahun-tahun yang lalu. Tapi memang terkadang takdir tidak sesuai kehendak manusia, belum sempat menyampaikan niat baiknya, Teni justru memberikan kabar yang tidak mengenakkan.

“Iya mas, oiya, sepertinya kita nggak bisa ketemu lama-lama mas, aku habis ini masih harus keliling lagi. Ini mas, jangan lupa ya hadir Minggu depan.” Dengan wajah tanpa dosa, Teni menyerahkan secarik undangan pernikahannya dengan pria lain. Sebuah kabar yang membuat Tumin mendadak terdiam. Entah kaget, marah, kecewa. Semua perasaan bercampur aduk.

Meskipun begitu, Tumin tetap berusaha tegar dan baik-baik saja. Ia ingat sekali, bahwa dulu Teni minta putus untuk hijrah, eh ternyata hijrah yang dimaksud Teni dan ditangkap Tumin itu nggak sama. “Oya, terima kasih ya. Datang Insya Allah.” Tumin menerima undangan, mengucap terima kasih dan pamitan untuk pulang.

“Ternyata hijrah yang dimaksud Teni nggak sesederhana itu ya, itu hanya tipu daya Teni saja. Ngakunya hijrah ternyata hijrah ke cowok lain, pas ketemua mau bahas mimpi dan angan, malah disodorin undangan nikahan. Ya... mungkin itulah kondisi terbaik yang ditetapkan. Kalo takdir dah ditentukan kita bisa apa? Nggak bisa apa-apa kan kecuali mengumpat. Asu asuu” Ujar Tumin kepada saya dengan penuh amarah dan nada yang tinggi.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

2 Tahun Kanal Marginal