Witing tresno jalaran soko kulino. Begitulah kira-kira falsafah jawa yang dapat
mewakili proses perjalanan asmara Setya. Pertemuan yang rutin nan inten secara
tidak sengaja juga membawa perasaan Setya kepada salah satu rekan
organisasinya. Sebut saja namanya Rahmah
Awal mula tumbuh kembang perasaan Setya
Seiring berjalannya waktu pasca berakhirnya
hubungan Setya dengan Sekar beberapa waktu lalu, benih-benih cinta mulai muncul
di hati Setya. tak lain dan tak bukan orang yang ia cintai adalah Rahmah, salah
satu rekan Setya di organisasi yang turut membantu menyukseskan berbagai
program kerja Setya.
Awalnya,
Setya berkonsultasi kepada penulis perihal hubungan asmaranya. “Mas,
kira-kira kalau aku mengungkapkan perasaan ke Rahmah gimana ya?” tanya
Setya kepada penulis malam itu. “lah... sejak kapan kau suka sama Rahmah?” Setya
yang saat itu sedang sibuk menyusun tugas akhir, tiba-tiba menanyakan perihal
lain di luar kuliah dan organisasi.
“Sebenernya
udah lumayan lama aku perhatiin dia, kayaknya aku cocok deh sama dia” Setya
menjawab dengan yakin yakin sekaligus diplomatis. “Ya terserah aja, kalau
kau ngerasa udah move on sama Rahmi, ga masalah, dan itu juga kalau Rahmah mau
sama kau... hahaha...” penulis memancing Setya dengan narasi yang sedikit
meremehkan.
“Aman
aja mas, urusanku sama Rahmi udah selesai. Saatnya menjemput Rahmah” Setya
menjawab mantap. Dengan statusnya sekarang sebagai ketua organisasi yang cukup
eksis di kampus, agaknya memang hanya sedikit kemungkinan ia ditolak.
“Terserah kau aja lah, yang penting jangan sampe tugas akhir kau terhambat
gara-gara sibuk organisasi dan pacaran” Pesan penulis kepada Setya malam
itu.
Penolakan Rahmah yang lumayan epic
Beberapa waktu berselang, sekitar 12 hari
dari pertemuan terakhir penulis dengan Setya, ia kembali menghubungi penulis
melalui pesan whatsapp. Narasinya singkat, namun dibalik pesan itu,
terselubung kabar, yang entah kabar baik atau kabar buruk. “P, Ngopi malem
ini, tempat biasa.” Pesan yang sangat singkat, padat dan tanpa basa-basi
bukan?
Sekitar
pukul delapan malam, penulis sudah sampai di “tempat biasa” yang dimaksud
Setya. Saat itu Setya belum hadir (mungkin masih sibuk rapat organisasi). Oleh
karena itu, penulis membuka membuka laptop untuk nyicil tugas kuliah
yang tidak lama lagi harus dikumpulkan.
“Mas...”
belum ada sepuluh menit, Setya memanggil, ia baru saja datang. Masih di
parkiran. Helmnya pun masih melekat di kepalanya. “Maaf ya, agak terlambat,
tadi aku habis mimpin rapat, jadi nggak enak kalau pergi duluan.” Betul apa
yang penulis duga. Ia habis rapat.
“Gimana
Set, kayaknya ada kabar baik nih” penulis tidak menggubris permintaan
maafnya. Biasa saja. Bukannya keterlambatan sudah menjadi budaya di Indonesia? “Gini
mas, sebenernya memang ada kabar, tapi bukan kabar baik” Setya merespon
pertanyaan penulis setelah duduk dan menanggalkan jaketnya.
Ngopi dan curhat tentang penolakannya
“Hah... kok bisa kau ditolak?” Penulis cukup kaget ketika ia menceritakan
perihal hubungan asmaranya. Tidak seperti yang dibayangkan, ternyata ia ditolak
pasca menyatakan perasaannya ke Rahmah. “Ya... begitu lah mas namanya juga
hidup” Setya pasrah dengan keputusan Rahmah menolaknya. Ia juga mengatakan
bahwa alasan Rahmah menolaknya juga terkesan unik dan sedikit lucu.
“Biasanya kan orang-orang alasan nolak tu
bilang terlalu baik lah, atau mau fokus kuliah, atau apalah. Tapi alasan Rahmah
ini menurutku lumayan lucu mas. “Gimana dia bilangnya” Tentu saja penulis penasaran dengan cara
Rahmah menolak Setya, senior sekaligus ketua di organisasniya. “Jadi dia
bilang gini mas, maaf ya Set, kayaknya kita ngga bisa pacaran, soalnya
di keluargaku itu ngga ada tradisi pacar-pacaran gitu.”
Sejenak penulis diam seletah Setya
menjelaskan narasi penolakan Rahmah. Memang lucu sih, tapi penulis tidak tega
untuk tertawa lepas di depan penderitaan Setya. Penulis berusaha menahan sekuat
mungkin untuk tidak tertawa. “Ketawa aja mas, emang lucu soalnya.”
“hahaha.....” Gelak tawa terdengar renyah tepat setelah
Setya mempersilakan penulis untuk ketawa. Respon yang cukup unik dan lucu untuk
diterima Setya. Mendengar jawaban Rahmah atas ungkapan perasaan kepadanya,
penulis teringat suatu hal, yaitu tentang kasus yang berbeda namun dengan
respon serupa. Fenomena tersebut adalah penolakan seruan dakwah para nabi
terhadap kaumnya.
Narasi penolakan yang sekulerisme positif
Apabila dilihat dari penolakannya, narasi
yang digunakan Rahmah cenderung tergolong sekuler namun dalam tanda kutip
sekuler positif. Apabila di dalam kitab suci al-Quran disebutkan bahwa mereka (golongan
yang menolak seruan dakwah para nabi) beralasan bahwa kakek nenek moyang mereka
sudah menyembah berhala sejak lama.
Secara substansi, jika dibandingkan narasi
penolakan Rahmah dengan golongan yang menolak seruan dakwah para nabi, terdapat
kesamaan serupa. Yaitu sama-sama melakukan penolakan dengan alasan pendahulunya
tidak ada yang melakukan hal tersebut.
Walaupun serupa, namun apa yang dilakukan
Rahmah dapat dikategorikan sebagai penolakan yang bersifat sekuler positif. Hal
ini dikarenakan ajakan untuk pacaran adalah tindakan suatu kemaksiatan yang
harus ditolak, terlepas dari apapun alasan tersirat Rahmah melakukan penolakan
terhadap Setya.
“Jadi gimana Set, masih mau berjuang untuk
Rahmah, atau mau cari yang lain?” Penulis bertanya kepada Setya malam itu, penasaran dengan
apa yang akan dilakukan di kemudian hari. “Nggak tau juga mas, nanti lah.
kayaknya hari-hari ini aku mau fokus ke organisasi dulu aja. Memang benar,
organisasi adalah tempat pelarian yang tidak buruk-buruk amat.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar