Beberapa waktu
lalu, Tumin (bukan nama Asli) bercerita kepada saya tentang kisah asmaranya
yang berakhir kandas menyakitkan. Tidak hanya kehilangan kekasih, Tumin bahkan
kehilangan semangat untuk kembali merajut asmara. Ia merasa patah hati yang double
kill pasca ditipu oleh mantan kekasihnya. Kalau kata Happy asmara begini, Ra
sepirone loro ati iki amergo ditinggal pergi Tapi loro ati iki amergo
dikhianati. Ya..., begitulah kiranya
Takdir yang memisahkan Jarak
Kata Tumin, ia
dan kekasihnya adalah pasangan yang serasi dan sefrekuensi. Mereka mulai kenal
dekat dan berpacaran saat masih kelas 10 SMA di kota yang sama, Sukoharjo. Saat
masa putih abu-abu, mereka seperti pasangan yang sangat cocok, bahkan
teman-teman mereka pun bahkan yakin bahwa mereka akan terus bersama-sama sampai
di pelaminan. Tak berhenti sampai di situ, orang tua mereka pun sudah saling
kenal selayaknya dua pasang orang tua yang sudah siap besanan. “Masa-masa
itu, rasanya ngga ada yang lebih nikmat di dunia ini selain bersama Teni.” Ujar
Tumin saat cerita ke saya sambil membayangkan masa-masa indahnya dulu.
Setelah kurang
lebih bersama-sama selama tiga tahun, hubungan mereka mulai diuji. Bukan ujian
akhir sekolah, tapi ujian akan masa depan mereka masing-masing. Saat itu, Tumin
sangat menyesalkan takdir yang tampaknya tidak berpihak kepadanya. Ia harus
melanjutkan studi di Jogja, sedangkan Teni melanjutkan kuliahnya di Semarang.
LDR. Seperti itulah takdir memisahkan mereka.
Perjuangan Tumin LDR Jogja
Semarang
Tahun pertama
kuliah, Tumin sering sekali bolak-balik Jogja Semarang hanya untuk melepas
rindu. Perjalanan 3-4 jam ia tempuh hanya untuk senyuman pujaan hati yang kata
Tumin manisnya seperti sakarin, sangat manis dan membahayakan. Di sela-sela
kesibukannya kuliah, ia selalu menyempatkan berkirim kabar meskipun hanya via whatsapp.
“Mungkin gitu ya rasanya jadi budak cinta, kita ngga akan sadar sampai kita
selesai melaluinya” Begitu kata Tumin saat cerita kepada saya.
Tahun kedua,
Tumin juga masih sering bolak-balik Jogja Semarang. Meskipun frekuensinya tidak
sesering tahun pertama. Tumin selalu menyempatkan menemui kekasihnya itu.
Bahkan beberapa kali mereka sengaja janjian untuk ketemu di Sukoharjo (kota
asal mereka) untuk bertemu dan melepas rindu. Sesekali juga Teni berkunjung ke
Jogja untuk menikmati istimewanya kota itu dengan Tumin, kekasihnya yang tidak
kalah istimewanya seperti Jogja.
Komitmen Teni yang Mulai Goyah
Dua tahun menjalani masa LDR adalah masa-masa
berat bagi mereka, sampai akhirnya mereka terbiasa dan mulai berdamai dengan
keadaan. Pemikiran yang semakin dewasa dan kesibukan masing-masing menjadikan
mereka pasangan yang semakin hari tidak lagi meributkan hal-hal kecil. Dulu,
saat Tumin tidak berkabar saat main futsal, maka Teni akan marah dan
ngamuk-ngamuk. Atau saat Teni pergi acara organisasi tanpa izin, Tumin akan
membuat story whatsapp dengan kata-kata yang menyinggung. Tapi semakin
kesini, mereka semakin sadar bahwa hal tersebut tidaklah perlu di
besar-besarkan. Hubungan mereka relatif langgeng dan aman, sampai tiba-tiba
suatu waktu Teni mengejutkan Tumin.
“Mas
kita putus aja ya” Tanpa mendung, tanpa gledek, Teni tiba-tiba minta putus.
“Lho kenapa, mas salah apa emangnya?” Tumin tentu saja terkejut dengan
pertanyaan yang bahkan tidak terperkirakan oleh BMKG itu. “Nggak salah,
apa-apa kok mas. Aku Cuma mau putus aja, kita kan tau pacaran itu nggak baik.
Dosa, tapi kenapa kita tetep ngelakuin. Aku mau hijrah mas, memperbaiki diri.
Kita saling berdoa aja mas, kalau aku takdirmu, pasti kita akan berjodoh. Tapi
kalau engga, pasti kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari aku. Sekarang aku
mau fokus memantaskan diri mas. Tolong jangan larang aku untuk berusaha di
jalan yang benar.” Permintaan Teni itu bagaikan petir yang menyambar kepala
Tumin, menyakitkan, nyetrum, dan bahkan membuat perasaannya gosong seperti
pantat panci.
Meskipun
begitu, Tumin tetap berusaha tenang dan berpikir positif. Saat itu ia berpikir
bahwa ini adalah kode alam bahwa tuhan mengarahkannya untuk memperbaiki diri
juga. Toh pacarku saja mau meng-upgrade diri kok, masa saya tetep gini-gini
saja. Begitulah pikiran naif Tumin kala itu.
“Oh
yasudah dek, semoga itu yang terbaik. Doain ya, mas juga mau berusaha
memperbaiki diri. Semoga nanti kita dipertemukan dalam kondisi yang sama-sama
baik.” Begitu respon Tumin. Mereka pun saling sepakat untuk tidak
berhubungan lagi bahkan sekedar memberi kabar via whatsapp. Berharap
agar kelak nanti alam semesta memihak kepada mereka.
Hijrah sebagai tipu Daya
mantan
Dua tahun
berlalu, mereka akhirnya sama-sama lulus dari perguruan tinggi. Resmi
menyandang gelar sarjana, membuat mereka dihadapkan dengan realita kehidupan
yang lebih serius, bekerja dan menikah. Tumin yang masih dengan harapan dan
perasaan yang sama terhadap Teni, berusaha menguhubungi dan mengajaknya ketemuan
untuk sekedar melepas rindu dan mungkin sedikit live update setelah dua
tahun sibuk dengan aktivitas masing-masing. Gayung bersambut, chat Tumin
dibalas Teni, akhirnya mereka sepakat untuk ketemuan di Sukoharjo, kota asal
mereka berdua.
Sampai waktu
yang ditentukan tiba, mereka akhirnya kembali bertemu dengan kondisi yang saling
pangling antar satu dengan yang lainnya. Teni lebih tampak berisi dari dua
tahun silam, sedangkan Tumin tampak lebih kurus dengan rambut gondrongnya yang
menjadi saksi bisu perjuangan dia mengerjakan skripsi.
“Lama nggak
ketemu, kamu jadi pangling dek.” Tumin membuka obrolan. “Iya mas, kamu
juga, lebih gagah dan berwibawa.” Tumin yang merasa dipuji menjadi tersepu
malu, meskipun ia juga dalam hatinya berbangga diri. “Akhirnya kita bisa kembali
bertemu dalam kondisi yang lebih baik ya” Tumin tidak merespon pujian Teni,
ia mengalihkan topik yang menurutnya akan sangat krusial.
Sebetulnya
pertemuan tersebut dilakukan Tumin bukan hanya sebatas baas-basi atau pertemuan
senang-senang saja seperti masa-masa awal kuliah mereka. Waktu itu, Tumin ingin
menyampaikan maksud baiknya untuk melamar Teni, perempuan yang ia cintai sejak
bertahun-tahun yang lalu. Tapi memang terkadang takdir tidak sesuai kehendak manusia,
belum sempat menyampaikan niat baiknya, Teni justru memberikan kabar yang tidak
mengenakkan.
“Iya mas,
oiya, sepertinya kita nggak bisa ketemu lama-lama mas, aku habis ini masih harus
keliling lagi. Ini mas, jangan lupa ya hadir Minggu depan.” Dengan wajah
tanpa dosa, Teni menyerahkan secarik undangan pernikahannya dengan pria lain.
Sebuah kabar yang membuat Tumin mendadak terdiam. Entah kaget, marah, kecewa.
Semua perasaan bercampur aduk.
Meskipun
begitu, Tumin tetap berusaha tegar dan baik-baik saja. Ia ingat sekali, bahwa
dulu Teni minta putus untuk hijrah, eh ternyata hijrah yang dimaksud Teni dan
ditangkap Tumin itu nggak sama. “Oya, terima kasih ya. Datang Insya Allah.”
Tumin menerima undangan, mengucap terima kasih dan pamitan untuk pulang.
“Ternyata
hijrah yang dimaksud Teni nggak sesederhana itu ya, itu hanya tipu daya Teni
saja. Ngakunya hijrah ternyata hijrah ke cowok lain, pas ketemua mau bahas mimpi
dan angan, malah disodorin undangan nikahan. Ya... mungkin itulah
kondisi terbaik yang ditetapkan. Kalo takdir dah ditentukan kita bisa apa? Nggak
bisa apa-apa kan kecuali mengumpat. Asu asuu” Ujar Tumin kepada saya dengan
penuh amarah dan nada yang tinggi.
