Jumat, 05 April 2024

“MANUK NGACENG” yang sebetulnya tidak benar-benar “NGACENG”

            Sebagai Cabang olahraga yang paling populer dikalangan masyarakat Indonesia bahkan Dunia, Sepak bola selalu menghadirkan banyak kisah menarik dalam setiap Perhelatannya, entah pertandingan antar sekolah, tarkam kecil-kecilan, Pertandingan Liga Indonesia yang “kata netizen” tidak lagi lucu semenjak bergantinya ketua umum PSSI, Laga Ujicoba biasa, sampai Pertandingan paling bergensi seperti Piala Dunia selalu mendapatkan perhatian bagi seluruh masyarakat.

            Tidak melulu tentang kemenangan dan kekalahan, Sepak bola juga kadang memberikan kesan dan citra buruk. Pertandingan yang seharusnya merupakan sajian indah untuk hiburan dan Pelepas penat, acapkali dapat memancing emosi bagi suporter tim yang kalah. Terlebih apabila suporter tim yang menang memberikan seruan seruan “psywar” bahkan “chant” rasis. Tentu saja hal ini akan berkali lipat lebih membakar emosi suporter lawan. Sudah kalah, dibully pula.

             Ihwal seperti ini biasanya dilakukan oleh oknum suporter yang kurang dewasa dalam merayakan kemenangan, yang kemudian disambut gayung oleh oknum suporter tim lawan yang juga kurang dewasa dan besar hati menerima kekalahan tim kesayangannya. Apabila hal tersebut benar benar terjadi, maka bisa dipastikan kemungkinan besar, alih-alih menjadi pemersatu bangsa, malah menjadi pemecah belah. tidak jarang fenomena keributan antar suporter di Indonesia. Salah satu contohnya, tragedy kanjuruhan yang terjadi 1 Oktober 2022 silam.

Lagi-lagi “kata netizen”, hal ini terjadi karena SDM Suporter Indonesia Rendah. Terlepas dari benar atau salahnya statement tersebut, tentunya setiap individu perlu intropeksi diri dan bermuhasabah agar bisa menghadirkan sepak bola yang aman dan ramah bagi seluruh Masyarakat.

Diluar plus minus tersebut, seperti itulah Sepak bola, selalu menghadirkan perasaan dan melibatkan emosial bagi siapapun pecintanya. Terkadang senang, sedih, marah, bahagia, takut, dan tak jarang pula kejadian kejadian dalam dunia sepak bola menghadirkan gelak tawa jenaka karena tingkah lucu suporternya. Tulisan ini akan menceritakan singkat pengalaman saya dalam menonton pertandingan sepak bola di salah satu stadion yang cukup besar.

Negoisasi Gate Keeper stadion dengan salah oknum suporter

            Kala itu saya sedang mengantre memasuki stadion untuk melihat pertandingan tim kesayangan. Seperti Biasanya, sudah menjadi SOP bagi panitia pelaksana pertandingan untuk memeriksa barang bawaan suporter atau siapapun yang hendak menonton sepak bola. Dalam antrean, saya memperhatikan tiga pemuda yang sedang diperiksa oleh gate keeper. Kebetulan tempat berdiri saya berdiri hanya berselang lima atau orang, sehingga saya dapat mendengarkan secara jelas obrolan mereka.

            “Mas iki rokok’e ditinggal neng kene yo, ra oleh digowo mlebu” ujar gate keeper kepada tiga pemuda yang tertangkap basah disakunya sebungkus rokok. Melihat atribut yang dikenakan, sepertinya ketiga pemuda tersebut merupakan suporter tim tuan rumah.

            “Yo wegah mas, lha iki aku lagi tuku’e, isih utuh ki lho” tolak salah satu pemuda dengan nada yang sengak sembari menunjukkan isi rokok yang masih tersusun rapi 16 batang dan satu korek gas.

            “Raiso mas, lha iki aturan’e wes koyo ngene. Nek ra gelem rasah ndelok bal-balan. Muleh wae kono!” Petugas gate keeper tak kalah menjawab dengan nada yang tinggi. ia masih teguh pendirian. Sedangkan saya dan lima atau enam orang didepan saya melihat kejadian negoisasi mereka tanpa berkomentar. Pemandangan seperti itu sudah lumrah terjadi, biasanya suporterlah yang memenangkan perdebatan seperti itu, namun tak jarang juga sebaliknya, dengan keterpaksaan dan menggerutu, suporter memberikan barang barang terlarang yang memang “ketahuan” dibawanya kepada gate keeper.

“Ngene wae mas, nek misale tetep arep mekso digowo mlebu, ndang ben uwong jupuk’en siji-siji terus disumet, sisa’ne tinggal neng kene” Tidak kehabisan Akal, gate keeper memberikan negoisasi kepada ketiga pemuda tadi.

“Yowes mas” Akhirnya ketiga pemuda mengalah setelah negoisasi alot dengan gate keeper. Melihat gate keeper yang “tidak bersahabat” dengan kawanan suporter, orang-orang yang mengantre didepan saya mengambil pelajaran. “suporter yang baik itu tidak akan “konangan” gate keeper dalam gate yang sama seperti orang yang tidak bernasib mujur sebelumnya” kurang lebih seperti itu saya menarasikan aksi-aksi gerak cepat mereka menyelamatkan barang-barang terlarang mereka.

 Dua pemuda belakang pemuda yang “konangan” rokoknya, menyembunyikan Rokok dibawah kaos kaki, masalah bau rokok yang nantinya tercampur dengan busuknya kaki, itu bisa dipikir belakangan, yang penting rokoknya selamat dulu. Dan Akhirnya kedua pemuda yang menaruh rokok di sepatu kanan dan korek gas di sepatu kiri dapat masuk membawa rokok dengan selamat.

“Manuk Ngaceng” yang sebetulnya tidak benar-benar “Ngaceng”

            Selain rokok, ada juga barang terlarang yang biasa dibawa oleh suporter. Barang- barang tersebut seperti senjata tajam, minuman keras, lampu laser, flare dan lain sebagainya. Peraturan terkait pelarangan tersebut sebenarnya sudah ditegaskan oleh PSSI.  Namun oknum suporter acap kali tetep ngeyel dan kekeuh untuk membawanya, seperti tiga pemuda yang membawa rokok, dua pemuda dibelakangnya yang juga membawa rokok namun bernasib mujur, dan empat orang pemuda yang sepertinya juga menyembunyikan sesuatu. Saat itu, mereka benar-benar mengantre tepat didepan saya.

            Sebelum menghadap gate keeper keempat pemuda tersebut saling bisik-berbisik, sepertinya karena mereka sedang Menyusun strategi. “Lagi do ngopo? Ndang maju! delok kae lo sing ngantri wes akeh”! Belum selesai berbisik, petugas gate keeper telah berseru kepada mereka. Dengan buru- buru dan bergegas, mereka segera mengadap untuk diperiksa.

            “Ndi rokokmu, tinggal kene! Tanpa Basa- basi gate keeper langsung menanyakan rokok mereka. “Mboten ngasto pak” Ujar salah satu diantara mereka. Keempat orang tersebut menurut saya terlihat lebih santun, pasalnya dari gerak-gerik mereka seperti seperti menunduk dan taat, terlebih mereka menjawab pertanyaan gate keeper dengan santun dan nada yang rendah.

            Selanjutnya, gate keeper meminta mereka untuk membuka tas slempangan yang mereka bawa. Dalam jarak yang dekat, saya juga dapat melihat dengan jelas apa saja yang ada di tas tersebut. Terlihat seperti ada kunci motor, Handphone, Dompet, dan sebuah buku kecil yang bertulisan “buku cepat mahir fisika”. “Masya Allah, mantep tenan yo koe le, arep mlebu stadion wes koyo arep mlebu kelas ujian” Demi melihat buku kecil itu, gate keeper mengapresiasi keempat pemuda tadi yang sepertinya betul-betul orang baik. Gate keeper pun memberikan senyuman sambil menepuk-nepuk punggung salah satu diantara mereka dan mempersilakan masuk.

            Saya sebagai seorang masyarakat biasa yang tidak pandai pandai banget bahkan cenderung bodoh, tentu saja saya agak bangga melihat masih ada pemuda akhir zaman yang membawa buku pelajaran. walaupun sebenarnya entah sekedar barang bawaan saja atau benar-benar dibaca. Apapun itu, tentu saja itu lebih baik daripada membawa barang-barang terlarang.

Namun sebelum keempatnya memasuki gerbang, gate keeper itu memanggil mereka kembali. “Heh le, kuwi opo kok ketok bedo” gate keeper tersebut menunjuk kepada dua dari empat pemuda yang terlihat ada tonjolan yang sangat menonjol di bagian kemaluannya. Ketika dipanggil, sontak dua pemuda tersebut menutup kemaluannya dengan kedua tangannya. sembari tertawa malu. Salah satu diantara mereka berkata “Hehe, nganu pak. manuk kulo ngaceng”. Saya sebagai penonton yang mengantre dibelakangnya tentu saja menahan tawa. Manuk ngaceng dalam bahasa Indonesia artinya adalah penis yang sedang ereksi. “Kok bisa ya, dalam keadaan gini, malah ngaceng” Kejadian saat itu menurut saya terlihat janggal. Kok bisa-bisanya tidak ada apa-apa malah ngaceng. Namun anehnya, petugas gate keeper malah mempersilakan masuk tanpa curiga sedikitpun.

 “Ealah le le, cah enom saiki aneh aneh, yowes ndang mlebu kono”. Tanpa menunggu lama keempat pemuda tersebut bergegas masuk sambil cekikikan. Selanjutnya giliran saya diperiksa oleh gate keeper. Tentu saja tidak ada masalah dan bisa masuk dengan mudah. Hal ini karena memang saya tidak membawa suatu apapun yang dilarang oleh panitia pelaksana pertandingan.

Setelah masuk, saya tidak serta merta melupakan kejadian ngaceng tadi, melainkan saya mengikuti mereka berempat. didepan saya, mereka terlihat tertawa lepas sekali. Setelah saya perhatikan, dua pemuda yang mengaku dirinya sedang ngaceng ternyata tidak benar-benar ngeceng melainkan mereka menyembunyikan flare dibalik resleting celananya.

            Dalam batin saya menggerutu, “sialan mereka ini, saya sudah berhusnudzon dan bangga malah jebul ngapusi gate keeper”. Ah, terkadang kita tidak bisa terlalu mudah menilai dan menghakimi segala hal secara gegabah. Ya salah satu contohnya kasus ini, Fenomena dimana dua orang pemuda mengaku yang “manuknya ngaceng” tapi sebetulnya tidak benar-benar “ngaceng.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berebut menyeduh kopi hitam