Jika
tulisan pada dua bulan sebelumnya (April dan Mei) adalah tulisan yang
cenderung guyon dan bukan tulisan yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka pada
tulisan kali ini, izinkanlah penulis untuk menyajikan sebuah esai singkat yang rodok
bijak dan sarat akan makna. Tulisan ini akan mengulas bagaimana seseorang perlu
belajar dari segala hal, termasuk dari benda sekecil jarum.
“Jarum jatuh
kedengaran” Begitulah kira- kira ungkapan yang sering kali diucapkan Pimpinan
Pesantren Darussalam Gontor ketika sedang memberikan taujihat kepada
para santrinya. Kendati terkesan sederhana, ternyata ungkapan tersebut memiliki
nilai filosofis yang sangat dalam dan dapat memberikan dampak positif bagi para
santri yang benar- benar menyelami maknanya.
Pesantren Gontor dan nilai- nilai falsafah
didalamnya
Gontor merupakan salah satu lembaga
pendidikan pesantren modern di Indonesia. Tak cukup disitu, bahkan Gontor
digadang- gadang sebagai Lembaga yang menjadi kiblat pesantren Modern di
Indonesia. Sejak berdirinya di tahun 1926, Gontor terus berkembang dan eksis
sampai saat ini.
Pesantren
yang memiliki nama asli Darussalam ini, memiliki banyak falsafah yang dapat
mengubah karakter dan sikap seluruh elemen didalamnya, baik Pimpinan, asatidz,
dan santri- santri. Diantara salah satu falsafah yang sering digaungkan adalah “Jarum
jatuh kedengaran.”
Aula yang hening ketika perkumpulan
Ungkapan
yang lebih dikenal santri sebagai falsafah pondok itu ternyata merupakan kiasan
dari fenomena perkumpulan di pesantren Gontor. Terdengarnya jarum jatuh ketika
perkumpulan diselenggarakan di aula yang diisi kurang lebih 4000 santri
ternyata menggambarkan bahwa kendati diikuti oleh ribuan santri, kondisi hening
dan tenang tetap terlaksana bahkan hingga akhir acara.
Kekhidmatan
santri dalam menerima dan mencerna apa yang disampaikan pimpinan pondok,
membuat suasana aula menjadi hening dan benar- benar senyap. Bahkan apabila ada
jarum yang jatuh, maka itu akan terdengar. Hal ini dikarenakan tidak adanya
suara riuh, ribut, kegaduhan yang dilakukan santri. Mereka fokus dan khusyu’
menyimak apa yang disampaikan pimpinan.
Sebuah “jarum” membentuk good character
santri
Kiasan
dengan menggunakan perumpamaan “jarum” ini ternyata berdampak besar dalam
membentuk kepribadian seluruh elemen pesantren, terlebih kalangan santri. Dari
falsafah ini, para santri tergerak hatinya untuk menghormati suatu pertemuan
sekaligus pembicara dalam forum tersebut.
Dengan
memahami falsafah “Jarum jatuh kedengaran”, secara otomatis good character
akan terbentuk dengan baik. Terlebih santri selama empat tahun (minimal) tidak
hanya mendengar falsafah tersebut, melainkan juga membaca dari tulisan- tulisan
yang terpajang di berbagai titik pesantren. Maka, dari fenomena ini, kita
belajar bahwa benda sekecil jarum dapat memberikan nilai yang besar dalam
kehidupan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar