Bagi masyarakat, umumnya fungsi WC jongkok adalah sebatas tempat pipis
dan BAB saja. Namun, orang- orang tertentu tidak beranggapan demikian. Boleh jadi
bagi mereka WC jongkok adalah singgasana yang dapat memberikan perasaan lega,
tenang, dan fresh ketika sedang berada
diatasnya.
Kendati demikian, kesederhanaan dan kebersahajaan WC jongkok terancam
ditinggalkan karena tuntutan zaman. Setidaknya terdapat dua barang kekinian
yang menjadi ancaman serius bagi eksistensi dan fungsi WC jongkok, yaitu WC
duduk dan ponsel pintar. Adapun penjelasan terkait masing- masing barang
berikut akan dipaparkan di sub-bab berikut ini.
Kehadiran WC duduk yang sebetulnya tidak penting-
penting amat
Berdasarkan analisis dan pengamatan pendek penulis, pemilihan WC duduk
sebagai tempat buang air di kamar mandi sebenarnya lebih ke arah gengsi
daripada fungsi. Hal ini dapat dikuatkan dengan fakta bahwa di tempat- tempat
seperti Mall, Sekolah besar, bioskop dan bandara terlebih bertaraf
internasional akan sangat jarang ditemukan WC jongkok, seakan- akan seperti ada
kebanggaan tersendiri apabila sebuah tempat menggunakan WC duduk.
Padahal tidak demikian, Masyarakat umum justru akan lebih memilih
menggunakan WC jongkok jika memang tersedia opsi tersebut. Namun, apabila
tidak, para pengguna bisa jadi akan nekat untuk jongkok di WC duduk. Barangkali
yang menjadi alasan mereka adalah "kenyamanan", atau boleh jadi “kebiasaan”
jongkok ketika buang air. Dengan adanya fenomena ini, seharusnya penyedia
fasilitas lebih bijak dalam mempertimbangkan fungsi, bukan sekedar gengsi.
Dampak ponsel pintar terhadap fungsi WC jongkok
Selain WC duduk, kehadiran ponsel pintar juga dirasa mengganggu idealisme
fungsi WC jongkok. Fungsi yang dimaksud disini bukanlah pada fungsi primer WC
jongkok sebagai tempat pipis dan buang air besar, melainkan pada fungsi
sekunder yang sifatnya tidak selalu terjadi pada setiap orang.
Sebagian orang beranggapan bahwa Buang Air Besar dengan WC duduk adalah
momen otak untuk bekerja lebih cepat, sehingga tidak jarang mereka menemukan
suatu inspirasi ketika sedang jongkok di kamar mandi. Tentu saja momen ini
tidak akan dirasakan bagi mereka yang buang air besar di WC duduk.
Kehadiran ponsel pintar menyebabkan momen kontemplasi ketika buang air
besar menjadi terganggu. Ini disebabkan karena waktu yang sebelumnya digunakan
untuk kontemplasi ini bergeser menjadi momen main game atau sekedar scrolling- scrolling media sosial.
Sebenarnya, pengaruh terbesar ada
pada setiap individu seseorang, Namun tetap saja kehadiran ponsel pintar
mempengaruhi budaya finding inspiring ini. output seseorang yang
sebelumnya merasakan lega dan menemukan inspirasi baru, akan berubah menjadi
rasa lega yang disertai sedikit pegal- pegal karena terlalu lama jongkok.
WC jongkok adalah kenyamanan yang tidak
dapat dibeli
WC jongkok adalah suatu anugrah
dari tuhan yang perlu dijaga kelestariannya. Pasalnya, kemajuan dan perkembangan
zaman yang tidak dapat dielakkan ini berdampak pada eksistensi WC jongkok di
dunia modern. Apabila terjadi hal seperti ini, maka bukan hal yang mustahil
apabila akan bermunculan keresahan- keresahan sosial yang baru.
Bayangkan, seseorang pecinta WC
jongkok hendak Buang Air Besar. Namun sepanjang sepencahariannya, ia tidak
menemukan WC jongkok. Akhirnya ia menahan untuk tidak Buang Air Besar saat itu.
Tentu saja hal ini akan berdampak pada kesehatannya. Lebih buruknya, pelaku
tidak kuat lagi menahan dan malah mengeluarkan isi perut di bukan pada
tempatnya.
Maka, fenomena terkait WC yang
mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang, perlu ditindaklanjuti lebih
serius. Hal ini diharapkan agar apa yang dianggap sebagai ketakutan- ketakutan masyarakat
luas tidak terjadi, dan Masyarakat tidak perlu dihantui dengan langkanya WC
Jongkok.
WC jongkok sejatinya adalah benda sederhana yang biasa- biasa saja. Namun
dengan nongkrong diatasnya sambil mencari inspirasi adalah suatu kenyamanan
yang tidak dapat dibeli, kesahajaan yang tidak dapat diganti, dan kebahagiaan
tersendiri bagi siapapun pecintanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar