Ada
fakta unik yang perlu diketahui para mahasiswa akhir yang akan atau sedang KKN perihal
cinlok. Fakta itu yaitu potensi kandasnya hubungan yang sangat besar pasca
selesai KKN. Meskipun tulisan ini tidak disusun berdasarkan data-data ilmiah
yang diolah dari hasil survey mahasiswa akhir, tapi obrolan saya dengan
korban-korban cinlok KKN setidaknya membuktikan kebenaran dari pernyataan saya
perihal ini.
Cinlok adalah keniscayaan
Cinlok
adalah keniscayaan. Tentu pernyataan ini adalah suatu hal yang tidak bisa saya
pungkiri kebenarannya. Dari berbagai metode pendekatan hubungan asmara, cinlok
adalah metode yang menurut saya relatif tepat dan aman. Ketimbang taaruf atau
lewat biro jodoh, cinlok jauh lebih banyak memiliki keunggulan.
Biasanya
cinlok hadir karena terbiasa. Terbiasa bertemu, terbiasa berinteraksi, terbiasa
saling membantu, hingga akhirnya tidak terasa timbullah rasa cinta. Witing
tresno jalaran soko kulino. Begitulah kira-kira kata orang Jawa.
Dengan
cinlok, seseorang dapat mengetahui kepribadian, kelebihan, kekurangan, selera
humor, dan banyak hal lainnya yang belum tentu bisa didapati jika mencari jodoh
lewat taaruf atau biro. Sebetulnya ada banyak sekali macam cinlok. Cinlok
organisasi, cinlok tempat kerja, cinlok pengajian, cinlok even, dan masih
banyak lainnya. Dari sekian banyak cinlok yang saya ketahui, ada satu cinlok
yang menurut saya perlu untuk dihindari atau paling tidak diwaspadai, yaitu
cinlok KKN.
Jangan Cinlok
saat KKN
“Jangan
sampai yang bertahun-tahun kalah sama yang 45 hari!”
kira-kira begitulah kalimat yang sering muncul ketika musim KKN tiba.
Pernyataan itu bukanlah tanpa arti, lebih dari itu kalimat “Jangan sampai
yang bertahun-tahun kalah sama yang 45 hari!” menyimpan makna yang sangat
luas untuk dijabarkan.
Berdasarkan
cerita dan pengalaman teman-teman saya perihal cinlok KKN, saya menyimpulkan
pada satu hal, Jangan cinlok saat KKN! Tentu saja ini bukan larangan mutlak,
tapi untuk menghindari cidro, usahakan untuk tidak cinlok saat KKN.
Setidaknya ada beberapa alasan mengapa saya sangat tidak merekomendasikan
cinlok saat KKN.
Pertama, Tidak tahu latar
belakang pasangan. Meskipun hidup dan interaksi bersama selama 45 hari, tidak
sedikit dari pasangan cinlok yang belum tau banyak tentang seluk beluk
pasangannya. Bayangkan, ketika salah satu pihak sudah terlanjur bucin parah.
Ehh... Ternyata pasangannya sudah punya pacar yang ternyata disembunyikan
darinya.
Coba
bayangkan gimana sakit hatinya Cuma? Ya emang jahat banget sih. Tapi orang
modelan kaya gitu ada loh. Kalo bener-bener suka, pastikan dulu ya latar
belakang pasangannya. Jangan asal cinlok.
Kedua, Gagal cinlok saat KKN yang
45 hari itu, lukanya bisa berbulan bahkan bertahun-tahun. Sebetulnya saya juga
sedikit mbatin ketika teman saya menceritakan perihal lukanya. “Alay”
begitu kira-kira saya bergumam dalam hati. Selepas tiga bulan KKN usai, teman
saya masih saja galau karena putus sama cewekknya yang ia temui saat
KKN.
Memang sekilas alay sih. Tapi ketika
teman saya menjelaskan bagaimana ia diperhatikan, dibikinin kopi setiap malam,
ngobrol random dan bercanda tiap hari selama 45 hari, saya bisa sedikit
memakluminya. Meskipun Cuma 45 hari, tapi kalau se-intens itu, ya mungkin tidak
se-alay seperti yang saya bayangkan sebelumnya lah ya.
Ketiga, Kegagalan cinlok saat
KKN akan berdampak besar saat life after KKN. Ini yang paling berbahaya.
Ada yang lebih parah dari galau yang tidak berujung selama tiga bulan, yaitu
progres tugas akhir yang terhambat sampai tiga semester. Lagi-lagi memang
terlihat alay, tapi bagi seorang yang sedang dilanda asmara, gagal cinta pasca
KKN menjadi hal yang sangat menghambat tugas akhir.
Resiko
terbesar ketika cinlok saat KKN
Ini
yang juga terjadi pada salah satu teman saya. Bayangkan, hanya karena cintanya
berakhir seiring berakhirnya masa KKN, ia kesulitan menyelesaikan tugas
akhirnya. Setiap buka laptop, terbayang memori indah bersama pasangannya dulu
saat KKN. Ini menyebabkan ia tidak dapat berpikir jernih dan segera
menyelesaikan tugas akhirnya.
Tiga
semester bukanlah waktu yang sebentar bukan? Bayangkan dampak dari gagalnya
cinlok ternyata tidak hanya berdampak kepada yang bersangkutan. Lebih berbahaya
dari itu, dampaknya ternyata juga dirasakan oleh orang tuanya. Lha wong temen
saya kuliahnya masih dibayarin orang tua. Kan kasihan juga to orang
tuanya? harus mbayari kuliah anaknya selama tiga semester karena faktor
yang sebetulnya bisa-bisa saja diantisipasi dari awal masa KKN.
Jadi
sebelum terjadi dan menyesal. Jangan cinlok saat KKN ya adik-adik!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar