Selasa, 29 April 2025

Secuil kisah tentang kisah cinta Jono

 


“Pergi kau wahai Jono, dasar anak tidak tahu diuntung! sudah diberi enak kuliah malah milih susah susah bekerja, anak muda sekarang emang pola pikirnya tak bisa dimengerti” suara bu Dewi terdengar keras mengudara di langit langit rumah, ia sedang memarahi anak semata wayangnya karena bekerja di sela sela kegiatan kuliahnya tanpa sepengetahuannya. Walhasil, nilai IPK[1] Jono semester ini turun drastis dari semester sebelumnya.

Sebenarnya, Jono tidak tertarik untuk bekerja ditengah kesibukan kuliahnya, sama sekali tidak, bahkan terbesit sedikitpun tidak. Satu hal memaksanya untuk memilih tindakan nekat tersebut.

Semester sebelumnya, bu Dewi juga memerintah hal yang sama, menyuruh Jono kuliah tanpa harus memikirkan biayanya. Tentu saja Jono menyambut dengan antusias, ia senang karena akan memiliki waktu luang yang banyak untuk bersosialisasi, membaca jurnal jurnal mutakhir, berorganisasi, atau kegiatan apapun itu yang dapat ia kerjakan untuk mengembangkan potensi diri.

            Benar saja, satu pekan setelah ujian akhir semester, Jono dinobatkan kampus sebagai mahasiswa dengan IPK terbaik di angkatannya, tak tanggung tanggung, gelar duta kampus pun diraihnya, sehingga ia menjadi Maba (Mahasiswa baru) pertama yang menjadi duta kampus sejak pertama kali kampusnya berdiri.

Tapi, kebahagiaan itu tidak bertahan lama, sesaat setelah menerima semua penghargaan dari kampus, juga beberapa apresiasi dan ucapan selamat dari teman temannya, Jono dipanggil menuju ke gedung rektorat, untuk menghadap orang nomor satu di kampusnya.

“Kamu tahu mengapa saya memanggil kesini?”. Pak Yaser mulai membuka percakapan, nadanya sinis, tatapannya tajam, juga janggut putih yang memenuhi dagunya, menambahkan nuansa horor bagi siapa saja yang bertemu dengannya.  Beliau adalah rektor di kampus Jono, sangat jarang beliau memanggil mahasiswa ke ruangannya, dalam satu semester pun tidak banyak, hanya hitungan jari, biasanya mereka yang di panggil adalah mahasiswa dengan prestasi terbaik atau sebaliknya, mahasiswa dengan catatan perilaku terburuk.

“Eh, tidak tau pak”. Jono menjawab sekenanya, ia masih menerka nerka apa yang terjadi, menurut analisisnya, kalau ia dipanggil karena prestasinya, tentulah muka pak Yaser akan lebih bersahabat, terlebih ia barusaja mendapat dua award sekaligus. Tapi, mengapa mimik wajah yang timbul di muka pak Yaser terlihat menyeramkan? Apakah ia divonis sebagai mahasiswa dengan catatan terburuk semeseter ini? Ah, entahlah ia hanya menerka saja, bisa jadi iya dan bisa jadi tidak.

“Baiklah, saya akan jelaskan alasan kamu dipanggil ke ruangan ini”. Pak Yaser menghentikan sejenak ucapannya, sembari mengehela napas perlahan. “Ada dua hal yang akan saya sampaikan, yang pertama adalah kabar baik, mungkin kamu sudah tahu akan hal itu, pun seantero kampus telah mengetahui kabar baiknya, maka saya ucapkan selamat atas prestasi luar biasa yang kamu raih di semester ini, yang kedua adalah kabar yang kurang baik, sebenarnya saya enggan menyampaikan hal ini, tapi fakta dilapangan memanglah seperti ini adanya, tidak direkasaya sedikitpun oleh pihak yang bersangkutan.”

“Eh, pak apakah saya mahasiswa dengan catatan perilaku terburuk di semester ini?”. Jono memotong perkataan Pak Yaser, ia bertanya dengan nada sedikit mengingkari, wajar saja, karena ia merasa tidak melalukan pelanggaran apapun sebelumnya.

“Masalah UKT[2], apakah sudah dilunasi?”. Pak Yaser langsung to the point, sama sekali tidak menanggapi pertanyaan Jono tadi. “Anu pak, ee…, ada pak, maaf saya sampai lupa membayar”. Jono menjawab gugup, tentusaja ia sedang berbohong. “baik kami tunggu, karena deadline pelunasan tersebut hari ini, tepat jam empat sore nanti”.

“Kami sangat menyayangkan hal ini terjadi Jono, tapi inilah realitas kehidupan. Sekalipun kamu mahasiswa terbaik semester ini, UKT adalah kewajiban, dan akan tetap menjadi kewajiban bagi seluruh mahasiswa yang mengenyam pendidikan di kampus ini. Semoga kamu bisa memahami”. Pak Yaser mengangkat tangan kedepan sembari menunjuk kearah pintu, tanda dipersilakannya Jono keluar dari ruangannya.

Jono keluar ruangan dengan wajah suram, kepalanya tertunduk. Ia bingung bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat, “Ah ibu, bagaimana dengan ucapanmu dulu diawal masa perkuliahan?”. Segera ia tepis pikiran itu jauh jauh dari benaknya. Tentu saja ibunya pasti punya alasan sehingga belum melunasi UKT nya.

Tak ingin membuang waktunya sia-sia, Jono segera memutar otak bagaimana cara mendapatkan uang dengan cepat. Seketika, ia teringat dengan motor tua warisan ayah, itu mungkin satu satunya harta yang dimilikinya saat itu,  dengan sangat terpaksa ia harus menggadaikannya, uangnya memanng tidak akan banyak, tapi itu lebih dari cukup untuk melunasi UKT nya semester ini. Selanjutnya, Jono bergegas lari menuju parkiran, waktu terus berjalan dan ia harus mendapatkan uangnya sebelum pukul empat sore.

“Jono!”. Sebuah suara terdengar memanggil namanya. Reflek saja, Jono menoleh ke belakang. Adalah Rina, teman kuliah yang juga satu prodi[3] dengannya. “Hei hei, ah kamu ini, aku cari kemana mana ternyata ada disini, conglats ya atas pencapaiannya, aku dah nebak lo, dari awal masa perkuliahan kalo kamu yang bakal dapet IPK terbaik, dan ternyata, lihat tebakanku tidak salah”. Puji Rina “hehe,”. Joko tersenyum, sedikit salting[4]. “Terima kasih atas apresiasinya, sebenarnya kamu lebih layak mendapatkannya, mungkin para staf kampus salah input nilai, atau mungkin mereka salah ketik nama, sehingga akulah yang akhirnya terpilih”. Lanjut Joko. “Ah, kamu ini, bisa aja” Rina menyaut singkat. “Rina, maaf ya, aku harus pergi, lagi ada urusan”. Jono berbegas pergi dan meninggalkan Rina dibelakang.

“Jono, tunggu dulu”, Rina memanggil lagi untuk kali kedua. “tunggu sebentar” lanjutnya. “Ini aku ada sedikit hadiah, diterima ya?”. Rina memohon.  “Tapi Rin, aku”. Joko berusaha menolak. “Sudah ambil aja, anggap saja sebagai hadiah pertemanan, kalau tidak diterima, aku tidak mau lagi berteman denganmu”. Ancam Rina. “Eh, oke deh, aku terima, terima kasih ya, tapi aku sekarang buru-buru harus pergi, sudah kan tidak ada lagi?” tanya Jono. “Iya sudah, terima kasih sudah mau terima hadiah aku”. “Aku yang harusnya berterima kasih, oke ya, sudah kan?, bye..”. Jono pergi sambil melambaikan tangannya, ia bergegas menuju parkiran, hendak meuju pegadaian, waktunya tidak lama lagi.

“Ah, Wanita itu, sudah cantik, manis, pandai, baik hati pula Andai saja dia ”. Batinnya bergumam. “Kamu harus tau diri Jono, kamu orang nggak punya, bayar UKT saja tidak mampu”. Sebagian batin lainnya menyadarkan Jono. Ia memang seharusnya tahu diri, seperti apa yang dikatakan pepatah “lebih baik mencegah daripada mengobati”

Sebelum memacu motornya, Jono membuka hadiah yang diberikan oleh Rina, rasa penasaran akhirnya menunda keberangkatannya ke kantor pegadaian.

“Hey, apa ini?”. Jono berguman dalam hati. Ia sangat terkejut, ternyata hadiah yang diberikan Rina adalah hal yang sangat dibutuhkannya saat itu. Uang tunai. Jumlah nya memang tidak banyak, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk melunasi ukt nya bulan itu. ada secarik kertas tertulis diantara beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah. “Terimalah hadiah dariku, aku yakin kamu pasti membutuhkannya, tabik Rina”

Jono sangat terkejut, hanya UKT lah yang terbenak dipikirannya saat itu, kakinya refleks menuju ruang tata usaha bersegera menunaikan kewajiban. Jono menghela nafas lega, selanjutnya ia berazam akan bekerja apasaja setelah itu agar memiliki penghasilan, sehingga kejadian buruk itu tidak terulang kembali dikemudian hari.

            Dari sanalah awal petaka Jono dimulai. Kendati semester ini ia dapat melunasi UKT nya tepat waktu, masalah datang dari sektor lain. Prestasinya menurun drastis. Itulah yang menyebabkan bu Dewi naik pitam. Sehingga tak segan memarahi dan meneriaki anak semata wayangnya.      

            “Baiklah, jika itu kemauan ibu, akan saya turuti, permintaan saya hanya satu, agar ibu selalu terus mendoakan saya dalam kebaikan” Jono menunduk, sembari pergi meninggalkan rumah. Ia tak kuasa menahan air mata, ia tidak mau menyalahkan ibunya, ia hanya menganggap itu sebagai cobaan dari Allah yang harus dilalui.

            “Allahu akbar… Allahu akbar”. Sayup suara adzan terdengar sahut menyahut. Siluet oren mulai menghilang, tugas matahari telah usai, pun bulan sudah siap dengan tugasnya untuk menyinari malam hari itu.

            Jono terlihat lunglai, ia terus berjalan tanpa tujuan sedari tadi meninggalkan rumah. Badannya benar benar letih, tidak ada pilihan selain berhenti sejenak, beristirahat di depan ruko ada di depan matanya. Sejenak saja setelah ia memutuskan untuk duduk, matanya sudah terpejam.

            “Maaf mas, mari bangun, hari sudah gelap”. Seorang bapak tua yang nampaknya pemilik ruko membuyarkan mimpinya. Jono terkejut, ia segera berdiri dan beranjak pergi. “mau kemana nak?, alangkah baiknya kita ke masjid dulu, waktu maghrib telat tiba”. Ajak bapak tua. “Baik pak”. Jono menjawab singkat, ia berputar arah dan berjalan berdampingan dengan bapak tadi tanpa bercakap menuju masjid terdekat.

            “Jono!”. Sebuah suara memanggilnya Ketika ia hendak pergi meninggalkan masjid, reflek saja ia menoleh kearah belakang, “hah…”. Ia terkejut bukan main, ternyata yang memanggilnya adalah pak Yaser, rektor di Kampusnya. “Eh, pak Yaser, ia pak, ada apa?”. Agaknya Jono terkejut, tangannya menggaruk garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. “Loh, seharusnya saya yang bertanya kepada kamu, kenapa kamu ada disini? wajahmu berantakan, mukamu kusut, dan terlihat begitu lesu, kamu pasti belum makan kan?, mari, kerumah saya dulu, biar enak kita ngobrolnya, tidak jauh kok, sekitar 200 meter saja dari sini, Ayo ikut saya!”. Pak Yaser mendahuluinya, menyuruh Jono berjalan mengikuti dibelakangnya.

            “Jadi apa permasalahanmu?” pak Yaser membuka percakapan. Mereka berdua telah berada di ruang tamu rumah pak Yaser, rumahnya tidak besar, tidak terlalu kecil juga. Sederhana, namun bersih dan rapi. Sehingga siapapun yang berada disitu akan merasa nyaman, berbeda 180 derajat dengan ruangan kantornya yang bernuansa angker dan horror.

“Jadi seperti ini pak,”. Jono menceritakan semua kejadian yang ia alami. Pak Joko mengangguk angguk, menyimak apa yang diceritakan Jono. “Perempuan yang menolongmu itu berhati sangat mulia, siapakah nama perempuan itu?”. Jono terkejut, bagaimana bisa pak Yaser bertanya akan hal itu, sedangkan topik yang ia ceritakan bukan di bagian itu.

            “Namanya Rina pak, ia mahasiswi baru juga di kampus, mungkin bapak mengenalnya, karena ia juga termasuk mahasiswi yang berprestasi”.

             “Permasalahanmu tadi,” Pak yaser kembali fokus ke pembicaraan awal, pertanyaan tadi hanya sekedar intermeso. “Berapa umurmu?”. Lanjut pak Yaser. “Eh, 21 pak”. Jono menjawab canggung, bertanya tanya dalam hati, mengapa pak Yaser tiba tiba umurnya. “Yang kamu alami adalah hal yang biasa terjadi pada anak anak seumuranmu Jono. Menghadapi masalah finansial, realitas kehidupan yang tidak sesuai ekspektasi, keinginan untuk hidup mandiri tanpa membebani orang tua, iri dengan pencapaian orang lain yang sudah jauh melampauimu, masalah cinta yang rumit, ah, saya jadi rindu mengenang masa masa itu, pikiranmu sedang bercabang kemana mana, bukan?” pak Yaser mengahkiri ucapannya dengan pertanyaan. “eh,iya pak”.

“Nah itu lah yang biasa disebut Krisis usia seperempat abad atau a quarter life crisis, jadi kamu tidak usah khawatir, kamu akan melewati fase itu, untuk saat ini perbanyaklah mendekatkan diri kepada Allah agar hatimu tenang, Allah berfirman dalam surat Ar ra’du ayat 28 (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram”. Kamu harus percaya akan hal itu Jono, karena kamu adalah muslim dan seorang muslim sudah seyogyanya akan melaksanakan tindakan spiritualnya secara intuitif. Dekatkanlah dirimu kepada rabbmu, karena itulah janji Allah, semakin kamu dekat maka kamu akan semakin bertakwa, dan percayalah akan hal itu, Allah akan memberikan kamu jalan keluar jika kamu terus bertakwa. Allah juga berfirman dalam surat Ath- thalaq ayat 2-3 “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. Lanjut pak Yaser

Jono seakan akan dapat hidayah secara langsung, benar yang dikatakan pak Yaser, ia sudah terlalu jauh kepada Allah selama ini, meragukan rizki yang sebenarya telah dijanjikan-Nya, ia merasa sangat malu akan hal itu, dan sejak saat itu ia akan berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik.

“Jono, mari kita makan, saya tahu kamu belum sangat lapar bukan?”. Pak Yaser mengubah topik pembicaraan. “Baik pak”. Sebenarnya itulah yang ditunggu Jono, ia memang sangat lapar. “Na, bawa makanannya kedepan, ada tamu spesial abah, malam ini kita makan di ruang tamu, menghormati tamu kita”. Seru pak Yaser.  Jono yang merasa dianggap sebagai tamu spesial menoleh kaget, ia tak menyangka bahwa pak Yaser, orang nomor satu dikampusnya itu sangat memuliakannya”.

“Rina”, “Jono”. Mereka berdua berteriak bersamaan, keduanya sama sama tak menyangka akan pertemuannya dirumah pak Yaser, saking kagetnya Rina bahkan menjatuhkan nampan yang ia bawa.

“Jadi, Rina ini anak bapak?”. Jono bertanya terkejut. “Jadi, Rina yang kamu maksud adalah anakku?”. Pak Yaser balik bertanya. Sedangkan Rina yang menjadi objek pembicaraan terdiam, menunduk saja membiarkan sajian yang jatuh tercecer dilantai, mukanya memerah.

“Ah, Allah memang selalu memiliki skenario yang indah untuk hambanya, apakah ini rezeki yang tidak disangka-sangka sebagai balasan dari orang yang bertakwa sebagaimana yang bapak jelaskan tadi?” Jono tersenyum menahan tawa, entah mengapa ia merasa sangat gembira, padahal barusaja ia dikagetkan dengan kejadian yang tidak disangka sangka.  “Tidak perlu dijawab pak, saya sudah belajar dari bapak bahwa perkara cinta memanglah selalu rumit”. Lanjutnya menyeringai.

 

 

 



[1] Indeks Prestasi Komulatif; Sebuah nilai yang didapatkan oleh mahasiswa di akhir masa perkuliahannya

[2] Uang Kuliah Tunggal; Merupakan Sebagian biaya kuliah tunggal yang ditanggung setiap mahasiswa berdasarkan kemampuan ekonominya

[3] Program studi; kesatuan kegiatan pendidikan daan pembelajaran yang memiliki kurikulum dan metode pembelajaran tertentu dalam satu jenis Pendidikan akademik, biasa disebut jurusan ditempat lain

[4] Salah tingkah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berebut menyeduh kopi hitam