“Pergi kau wahai Jono, dasar anak tidak tahu diuntung! sudah diberi enak
kuliah malah milih susah susah bekerja, anak muda sekarang emang pola pikirnya
tak bisa dimengerti” suara bu Dewi terdengar keras mengudara di langit langit
rumah, ia sedang memarahi anak semata wayangnya karena bekerja di sela sela
kegiatan kuliahnya tanpa sepengetahuannya. Walhasil, nilai IPK[1] Jono
semester ini turun drastis dari semester sebelumnya.
Sebenarnya, Jono tidak tertarik untuk bekerja ditengah kesibukan
kuliahnya, sama sekali tidak, bahkan terbesit sedikitpun tidak. Satu hal
memaksanya untuk memilih tindakan nekat tersebut.
…
Semester sebelumnya, bu Dewi juga memerintah hal yang sama, menyuruh
Jono kuliah tanpa harus memikirkan biayanya. Tentu saja Jono menyambut dengan
antusias, ia senang karena akan memiliki waktu luang yang banyak untuk bersosialisasi,
membaca jurnal jurnal mutakhir, berorganisasi, atau kegiatan apapun itu yang
dapat ia kerjakan untuk mengembangkan potensi diri.
Benar saja, satu pekan
setelah ujian akhir semester, Jono dinobatkan kampus sebagai mahasiswa dengan IPK
terbaik di angkatannya, tak tanggung tanggung, gelar duta kampus pun diraihnya,
sehingga ia menjadi Maba (Mahasiswa baru) pertama yang menjadi duta kampus
sejak pertama kali kampusnya berdiri.
Tapi, kebahagiaan itu tidak bertahan lama, sesaat setelah menerima semua
penghargaan dari kampus, juga beberapa apresiasi dan ucapan selamat dari teman
temannya, Jono dipanggil menuju ke gedung rektorat, untuk menghadap orang nomor
satu di kampusnya.
“Kamu tahu mengapa saya memanggil kesini?”. Pak Yaser mulai membuka
percakapan, nadanya sinis, tatapannya tajam, juga janggut putih yang memenuhi
dagunya, menambahkan nuansa horor bagi siapa saja yang bertemu dengannya. Beliau adalah rektor di kampus Jono, sangat
jarang beliau memanggil mahasiswa ke ruangannya, dalam satu semester pun tidak
banyak, hanya hitungan jari, biasanya mereka yang di panggil adalah mahasiswa
dengan prestasi terbaik atau sebaliknya, mahasiswa dengan catatan perilaku
terburuk.
“Eh, tidak tau pak”. Jono menjawab sekenanya, ia masih menerka nerka apa
yang terjadi, menurut analisisnya, kalau ia dipanggil karena prestasinya,
tentulah muka pak Yaser akan lebih bersahabat, terlebih ia barusaja mendapat
dua award sekaligus. Tapi, mengapa mimik wajah yang timbul di muka pak Yaser
terlihat menyeramkan? Apakah ia divonis sebagai mahasiswa dengan catatan
terburuk semeseter ini? Ah, entahlah ia hanya menerka saja, bisa jadi iya dan
bisa jadi tidak.
“Baiklah, saya akan jelaskan alasan kamu dipanggil ke ruangan ini”. Pak Yaser
menghentikan sejenak ucapannya, sembari mengehela napas perlahan. “Ada dua hal
yang akan saya sampaikan, yang pertama adalah kabar baik, mungkin kamu sudah
tahu akan hal itu, pun seantero kampus telah mengetahui kabar baiknya, maka
saya ucapkan selamat atas prestasi luar biasa yang kamu raih di semester ini, yang
kedua adalah kabar yang kurang baik, sebenarnya saya enggan menyampaikan hal
ini, tapi fakta dilapangan memanglah seperti ini adanya, tidak direkasaya
sedikitpun oleh pihak yang bersangkutan.”
“Eh, pak apakah saya mahasiswa dengan catatan perilaku terburuk di
semester ini?”. Jono memotong perkataan Pak Yaser, ia bertanya dengan nada
sedikit mengingkari, wajar saja, karena ia merasa tidak melalukan pelanggaran
apapun sebelumnya.
“Masalah UKT[2], apakah sudah
dilunasi?”. Pak Yaser langsung to the point, sama sekali tidak menanggapi
pertanyaan Jono tadi. “Anu pak, ee…, ada pak, maaf saya sampai lupa membayar”. Jono
menjawab gugup, tentusaja ia sedang berbohong. “baik kami tunggu, karena deadline
pelunasan tersebut hari ini, tepat jam empat sore nanti”.
“Kami sangat menyayangkan hal ini terjadi Jono, tapi inilah realitas
kehidupan. Sekalipun kamu mahasiswa terbaik semester ini, UKT adalah kewajiban,
dan akan tetap menjadi kewajiban bagi seluruh mahasiswa yang mengenyam pendidikan
di kampus ini. Semoga kamu bisa memahami”. Pak Yaser mengangkat tangan kedepan
sembari menunjuk kearah pintu, tanda dipersilakannya Jono keluar dari
ruangannya.
…
Jono keluar ruangan dengan wajah suram, kepalanya tertunduk. Ia bingung
bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat, “Ah ibu,
bagaimana dengan ucapanmu dulu diawal masa perkuliahan?”. Segera ia tepis
pikiran itu jauh jauh dari benaknya. Tentu saja ibunya pasti punya alasan
sehingga belum melunasi UKT nya.
Tak ingin membuang waktunya sia-sia, Jono segera memutar otak bagaimana
cara mendapatkan uang dengan cepat. Seketika, ia teringat dengan motor tua warisan
ayah, itu mungkin satu satunya harta yang dimilikinya saat itu, dengan sangat terpaksa ia harus
menggadaikannya, uangnya memanng tidak akan banyak, tapi itu lebih dari cukup
untuk melunasi UKT nya semester ini. Selanjutnya, Jono bergegas lari menuju
parkiran, waktu terus berjalan dan ia harus mendapatkan uangnya sebelum pukul
empat sore.
“Jono!”. Sebuah suara terdengar memanggil namanya. Reflek saja, Jono
menoleh ke belakang. Adalah Rina, teman kuliah yang juga satu prodi[3]
dengannya. “Hei hei, ah kamu ini, aku cari kemana mana ternyata ada disini,
conglats ya atas pencapaiannya, aku dah nebak lo, dari awal masa perkuliahan
kalo kamu yang bakal dapet IPK terbaik, dan ternyata, lihat tebakanku tidak
salah”. Puji Rina “hehe,”. Joko tersenyum, sedikit salting[4]. “Terima
kasih atas apresiasinya, sebenarnya kamu lebih layak mendapatkannya, mungkin
para staf kampus salah input nilai, atau mungkin mereka salah ketik nama,
sehingga akulah yang akhirnya terpilih”. Lanjut Joko. “Ah, kamu ini, bisa aja”
Rina menyaut singkat. “Rina, maaf ya, aku harus pergi, lagi ada urusan”. Jono
berbegas pergi dan meninggalkan Rina dibelakang.
“Jono, tunggu dulu”, Rina memanggil lagi untuk kali kedua. “tunggu
sebentar” lanjutnya. “Ini aku ada sedikit hadiah, diterima ya?”. Rina memohon. “Tapi Rin, aku”. Joko berusaha menolak. “Sudah
ambil aja, anggap saja sebagai hadiah pertemanan, kalau tidak diterima, aku
tidak mau lagi berteman denganmu”. Ancam Rina. “Eh, oke deh, aku terima, terima
kasih ya, tapi aku sekarang buru-buru harus pergi, sudah kan tidak ada lagi?”
tanya Jono. “Iya sudah, terima kasih sudah mau terima hadiah aku”. “Aku yang
harusnya berterima kasih, oke ya, sudah kan?, bye..”. Jono pergi sambil
melambaikan tangannya, ia bergegas menuju parkiran, hendak meuju pegadaian, waktunya
tidak lama lagi.
“Ah, Wanita itu, sudah cantik, manis, pandai, baik hati pula Andai saja
dia ”. Batinnya bergumam. “Kamu harus tau diri Jono, kamu orang nggak punya,
bayar UKT saja tidak mampu”. Sebagian batin lainnya menyadarkan Jono. Ia memang
seharusnya tahu diri, seperti apa yang dikatakan pepatah “lebih baik mencegah
daripada mengobati”
…
Sebelum memacu motornya, Jono membuka hadiah yang diberikan oleh Rina, rasa
penasaran akhirnya menunda keberangkatannya ke kantor pegadaian.
“Hey, apa ini?”. Jono berguman dalam hati. Ia sangat terkejut, ternyata hadiah
yang diberikan Rina adalah hal yang sangat dibutuhkannya saat itu. Uang tunai.
Jumlah nya memang tidak banyak, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk melunasi
ukt nya bulan itu. ada secarik kertas tertulis diantara beberapa lembar uang
ratusan ribu rupiah. “Terimalah hadiah dariku, aku yakin kamu pasti
membutuhkannya, tabik Rina”
Jono sangat terkejut, hanya UKT lah yang terbenak dipikirannya saat itu,
kakinya refleks menuju ruang tata usaha bersegera menunaikan kewajiban. Jono
menghela nafas lega, selanjutnya ia berazam akan bekerja apasaja setelah itu
agar memiliki penghasilan, sehingga kejadian buruk itu tidak terulang kembali
dikemudian hari.
…
Dari sanalah awal
petaka Jono dimulai. Kendati semester ini ia dapat melunasi UKT nya tepat
waktu, masalah datang dari sektor lain. Prestasinya menurun drastis. Itulah
yang menyebabkan bu Dewi naik pitam. Sehingga tak segan memarahi dan meneriaki
anak semata wayangnya.
“Baiklah, jika itu
kemauan ibu, akan saya turuti, permintaan saya hanya satu, agar ibu selalu
terus mendoakan saya dalam kebaikan” Jono menunduk, sembari pergi meninggalkan
rumah. Ia tak kuasa menahan air mata, ia tidak mau menyalahkan ibunya, ia hanya
menganggap itu sebagai cobaan dari Allah yang harus dilalui.
…
“Allahu akbar… Allahu
akbar”. Sayup suara adzan terdengar sahut menyahut. Siluet oren mulai
menghilang, tugas matahari telah usai, pun bulan sudah siap dengan tugasnya
untuk menyinari malam hari itu.
Jono terlihat lunglai,
ia terus berjalan tanpa tujuan sedari tadi meninggalkan rumah. Badannya benar
benar letih, tidak ada pilihan selain berhenti sejenak, beristirahat di depan
ruko ada di depan matanya. Sejenak saja setelah ia memutuskan untuk duduk,
matanya sudah terpejam.
“Maaf mas, mari bangun,
hari sudah gelap”. Seorang bapak tua yang nampaknya pemilik ruko membuyarkan
mimpinya. Jono terkejut, ia segera berdiri dan beranjak pergi. “mau kemana
nak?, alangkah baiknya kita ke masjid dulu, waktu maghrib telat tiba”. Ajak
bapak tua. “Baik pak”. Jono menjawab singkat, ia berputar arah dan berjalan
berdampingan dengan bapak tadi tanpa bercakap menuju masjid terdekat.
“Jono!”. Sebuah suara
memanggilnya Ketika ia hendak pergi meninggalkan masjid, reflek saja ia menoleh
kearah belakang, “hah…”. Ia terkejut bukan main, ternyata yang memanggilnya
adalah pak Yaser, rektor di Kampusnya. “Eh, pak Yaser, ia pak, ada apa?”. Agaknya
Jono terkejut, tangannya menggaruk garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. “Loh,
seharusnya saya yang bertanya kepada kamu, kenapa kamu ada disini? wajahmu
berantakan, mukamu kusut, dan terlihat begitu lesu, kamu pasti belum makan
kan?, mari, kerumah saya dulu, biar enak kita ngobrolnya, tidak jauh kok,
sekitar 200 meter saja dari sini, Ayo ikut saya!”. Pak Yaser mendahuluinya, menyuruh
Jono berjalan mengikuti dibelakangnya.
…
“Jadi apa
permasalahanmu?” pak Yaser membuka percakapan. Mereka berdua telah berada di
ruang tamu rumah pak Yaser, rumahnya tidak besar, tidak terlalu kecil juga.
Sederhana, namun bersih dan rapi. Sehingga siapapun yang berada disitu akan
merasa nyaman, berbeda 180 derajat dengan ruangan kantornya yang bernuansa
angker dan horror.
“Jadi seperti ini pak,”. Jono menceritakan semua kejadian yang ia alami.
Pak Joko mengangguk angguk, menyimak apa yang diceritakan Jono. “Perempuan yang
menolongmu itu berhati sangat mulia, siapakah nama perempuan itu?”. Jono
terkejut, bagaimana bisa pak Yaser bertanya akan hal itu, sedangkan topik yang
ia ceritakan bukan di bagian itu.
“Namanya Rina pak, ia
mahasiswi baru juga di kampus, mungkin bapak mengenalnya, karena ia juga
termasuk mahasiswi yang berprestasi”.
“Permasalahanmu tadi,” Pak yaser kembali fokus
ke pembicaraan awal, pertanyaan tadi hanya sekedar intermeso. “Berapa umurmu?”.
Lanjut pak Yaser. “Eh, 21 pak”. Jono menjawab canggung, bertanya tanya dalam
hati, mengapa pak Yaser tiba tiba umurnya. “Yang kamu alami adalah hal yang
biasa terjadi pada anak anak seumuranmu Jono. Menghadapi masalah finansial,
realitas kehidupan yang tidak sesuai ekspektasi, keinginan untuk hidup mandiri
tanpa membebani orang tua, iri dengan pencapaian orang lain yang sudah jauh
melampauimu, masalah cinta yang rumit, ah, saya jadi rindu mengenang masa masa
itu, pikiranmu sedang bercabang kemana mana, bukan?” pak Yaser mengahkiri
ucapannya dengan pertanyaan. “eh,iya pak”.
“Nah itu lah yang biasa disebut Krisis usia seperempat abad atau a
quarter life crisis, jadi kamu tidak usah khawatir, kamu akan melewati fase
itu, untuk saat ini perbanyaklah mendekatkan diri kepada Allah agar hatimu
tenang, Allah berfirman dalam surat Ar ra’du ayat 28 (yaitu) orang-orang
yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah”.
Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram”. Kamu
harus percaya akan hal itu Jono, karena kamu adalah muslim dan seorang muslim sudah
seyogyanya akan melaksanakan tindakan spiritualnya secara intuitif. Dekatkanlah
dirimu kepada rabbmu, karena itulah janji Allah, semakin kamu dekat maka kamu
akan semakin bertakwa, dan percayalah akan hal itu, Allah akan memberikan kamu
jalan keluar jika kamu terus bertakwa. Allah juga berfirman dalam surat Ath-
thalaq ayat 2-3 “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan
mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya”. Lanjut pak Yaser
…
Jono seakan akan dapat hidayah secara langsung, benar yang dikatakan pak
Yaser, ia sudah terlalu jauh kepada Allah selama ini, meragukan rizki yang
sebenarya telah dijanjikan-Nya, ia merasa sangat malu akan hal itu, dan sejak
saat itu ia akan berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik.
“Jono, mari kita makan, saya tahu kamu belum sangat lapar bukan?”. Pak Yaser
mengubah topik pembicaraan. “Baik pak”. Sebenarnya itulah yang ditunggu Jono,
ia memang sangat lapar. “Na, bawa makanannya kedepan, ada tamu spesial abah,
malam ini kita makan di ruang tamu, menghormati tamu kita”. Seru pak Yaser. Jono yang merasa dianggap sebagai tamu spesial
menoleh kaget, ia tak menyangka bahwa pak Yaser, orang nomor satu dikampusnya
itu sangat memuliakannya”.
“Rina”, “Jono”. Mereka berdua berteriak bersamaan, keduanya sama sama
tak menyangka akan pertemuannya dirumah pak Yaser, saking kagetnya Rina bahkan menjatuhkan
nampan yang ia bawa.
“Jadi, Rina ini anak bapak?”. Jono bertanya terkejut. “Jadi, Rina yang
kamu maksud adalah anakku?”. Pak Yaser balik bertanya. Sedangkan Rina yang
menjadi objek pembicaraan terdiam, menunduk saja membiarkan sajian yang jatuh
tercecer dilantai, mukanya memerah.
…
“Ah, Allah memang selalu memiliki skenario yang indah untuk hambanya,
apakah ini rezeki yang tidak disangka-sangka sebagai balasan dari orang yang
bertakwa sebagaimana yang bapak jelaskan tadi?” Jono tersenyum menahan tawa,
entah mengapa ia merasa sangat gembira, padahal barusaja ia dikagetkan dengan
kejadian yang tidak disangka sangka.
“Tidak perlu dijawab pak, saya sudah belajar dari bapak bahwa perkara
cinta memanglah selalu rumit”. Lanjutnya menyeringai.
[1] Indeks Prestasi Komulatif; Sebuah nilai yang
didapatkan oleh mahasiswa di akhir masa perkuliahannya
[2] Uang Kuliah Tunggal; Merupakan Sebagian biaya kuliah
tunggal yang ditanggung setiap mahasiswa berdasarkan kemampuan ekonominya
[3] Program studi; kesatuan kegiatan pendidikan daan
pembelajaran yang memiliki kurikulum dan metode pembelajaran tertentu dalam
satu jenis Pendidikan akademik, biasa disebut jurusan ditempat lain
[4] Salah tingkah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar