Sabtu, 25 Januari 2025

Opsi ungkapan penolakan cinta yang lumayan epic, tidak menyakiti, dan bisa dijadikan opsi (part 2)

Witing tresno jalaran soko kulino. Begitulah kira-kira falsafah jawa yang dapat mewakili proses perjalanan asmara Setya. Pertemuan yang rutin nan inten secara tidak sengaja juga membawa perasaan Setya kepada salah satu rekan organisasinya. Sebut saja namanya Rahmah

Awal mula tumbuh kembang perasaan Setya

            Seiring berjalannya waktu pasca berakhirnya hubungan Setya dengan Sekar beberapa waktu lalu, benih-benih cinta mulai muncul di hati Setya. tak lain dan tak bukan orang yang ia cintai adalah Rahmah, salah satu rekan Setya di organisasi yang turut membantu menyukseskan berbagai program kerja Setya.

            Awalnya, Setya berkonsultasi kepada penulis perihal hubungan asmaranya. “Mas, kira-kira kalau aku mengungkapkan perasaan ke Rahmah gimana ya?” tanya Setya kepada penulis malam itu. “lah... sejak kapan kau suka sama Rahmah?” Setya yang saat itu sedang sibuk menyusun tugas akhir, tiba-tiba menanyakan perihal lain di luar kuliah dan organisasi.

            “Sebenernya udah lumayan lama aku perhatiin dia, kayaknya aku cocok deh sama dia” Setya menjawab dengan yakin yakin sekaligus diplomatis. “Ya terserah aja, kalau kau ngerasa udah move on sama Rahmi, ga masalah, dan itu juga kalau Rahmah mau sama kau... hahaha...” penulis memancing Setya dengan narasi yang sedikit meremehkan.

            “Aman aja mas, urusanku sama Rahmi udah selesai. Saatnya menjemput Rahmah” Setya menjawab mantap. Dengan statusnya sekarang sebagai ketua organisasi yang cukup eksis di kampus, agaknya memang hanya sedikit kemungkinan ia ditolak. “Terserah kau aja lah, yang penting jangan sampe tugas akhir kau terhambat gara-gara sibuk organisasi dan pacaran” Pesan penulis kepada Setya malam itu.

Penolakan Rahmah yang lumayan epic

            Beberapa waktu berselang, sekitar 12 hari dari pertemuan terakhir penulis dengan Setya, ia kembali menghubungi penulis melalui pesan whatsapp. Narasinya singkat, namun dibalik pesan itu, terselubung kabar, yang entah kabar baik atau kabar buruk. “P, Ngopi malem ini, tempat biasa.” Pesan yang sangat singkat, padat dan tanpa basa-basi bukan?

            Sekitar pukul delapan malam, penulis sudah sampai di “tempat biasa” yang dimaksud Setya. Saat itu Setya belum hadir (mungkin masih sibuk rapat organisasi). Oleh karena itu, penulis membuka membuka laptop untuk nyicil tugas kuliah yang tidak lama lagi harus dikumpulkan. 

            “Mas...” belum ada sepuluh menit, Setya memanggil, ia baru saja datang. Masih di parkiran. Helmnya pun masih melekat di kepalanya. “Maaf ya, agak terlambat, tadi aku habis mimpin rapat, jadi nggak enak kalau pergi duluan.” Betul apa yang penulis duga. Ia habis rapat.

            “Gimana Set, kayaknya ada kabar baik nih” penulis tidak menggubris permintaan maafnya. Biasa saja. Bukannya keterlambatan sudah menjadi budaya di Indonesia? “Gini mas, sebenernya memang ada kabar, tapi bukan kabar baik” Setya merespon pertanyaan penulis setelah duduk dan menanggalkan jaketnya.

Ngopi dan curhat tentang penolakannya

“Hah... kok bisa kau ditolak?” Penulis cukup kaget ketika ia menceritakan perihal hubungan asmaranya. Tidak seperti yang dibayangkan, ternyata ia ditolak pasca menyatakan perasaannya ke Rahmah. “Ya... begitu lah mas namanya juga hidup” Setya pasrah dengan keputusan Rahmah menolaknya. Ia juga mengatakan bahwa alasan Rahmah menolaknya juga terkesan unik dan sedikit lucu.

“Biasanya kan orang-orang alasan nolak tu bilang terlalu baik lah, atau mau fokus kuliah, atau apalah. Tapi alasan Rahmah ini menurutku lumayan lucu mas. “Gimana dia bilangnya” Tentu saja penulis penasaran dengan cara Rahmah menolak Setya, senior sekaligus ketua di organisasniya. “Jadi dia bilang gini mas, maaf ya Set, kayaknya kita ngga bisa pacaran, soalnya di keluargaku itu ngga ada tradisi pacar-pacaran gitu.”  

Sejenak penulis diam seletah Setya menjelaskan narasi penolakan Rahmah. Memang lucu sih, tapi penulis tidak tega untuk tertawa lepas di depan penderitaan Setya. Penulis berusaha menahan sekuat mungkin untuk tidak tertawa. “Ketawa aja mas, emang lucu soalnya.”

“hahaha.....” Gelak tawa terdengar renyah tepat setelah Setya mempersilakan penulis untuk ketawa. Respon yang cukup unik dan lucu untuk diterima Setya. Mendengar jawaban Rahmah atas ungkapan perasaan kepadanya, penulis teringat suatu hal, yaitu tentang kasus yang berbeda namun dengan respon serupa. Fenomena tersebut adalah penolakan seruan dakwah para nabi terhadap kaumnya.

Narasi penolakan yang sekulerisme positif

Apabila dilihat dari penolakannya, narasi yang digunakan Rahmah cenderung tergolong sekuler namun dalam tanda kutip sekuler positif. Apabila di dalam kitab suci al-Quran disebutkan bahwa mereka (golongan yang menolak seruan dakwah para nabi) beralasan bahwa kakek nenek moyang mereka sudah menyembah berhala sejak lama.

Secara substansi, jika dibandingkan narasi penolakan Rahmah dengan golongan yang menolak seruan dakwah para nabi, terdapat kesamaan serupa. Yaitu sama-sama melakukan penolakan dengan alasan pendahulunya tidak ada yang melakukan hal tersebut.

Walaupun serupa, namun apa yang dilakukan Rahmah dapat dikategorikan sebagai penolakan yang bersifat sekuler positif. Hal ini dikarenakan ajakan untuk pacaran adalah tindakan suatu kemaksiatan yang harus ditolak, terlepas dari apapun alasan tersirat Rahmah melakukan penolakan terhadap Setya.

“Jadi gimana Set, masih mau berjuang untuk Rahmah, atau mau cari yang lain?” Penulis bertanya kepada Setya malam itu, penasaran dengan apa yang akan dilakukan di kemudian hari. “Nggak tau juga mas, nanti lah. kayaknya hari-hari ini aku mau fokus ke organisasi dulu aja. Memang benar, organisasi adalah tempat pelarian yang tidak buruk-buruk amat.”

Berebut menyeduh kopi hitam