Rabu, 05 Juni 2024

Belajar adab dari benda sekecil jarum

            Jika tulisan pada dua bulan sebelumnya (April dan Mei) adalah tulisan yang cenderung guyon dan bukan tulisan yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka pada tulisan kali ini, izinkanlah penulis untuk menyajikan sebuah esai singkat yang rodok bijak dan sarat akan makna. Tulisan ini akan mengulas bagaimana seseorang perlu belajar dari segala hal, termasuk dari benda sekecil jarum.

“Jarum jatuh kedengaran” Begitulah kira- kira ungkapan yang sering kali diucapkan Pimpinan Pesantren Darussalam Gontor ketika sedang memberikan taujihat kepada para santrinya. Kendati terkesan sederhana, ternyata ungkapan tersebut memiliki nilai filosofis yang sangat dalam dan dapat memberikan dampak positif bagi para santri yang benar- benar menyelami maknanya.

Pesantren Gontor dan nilai- nilai falsafah didalamnya

            Gontor merupakan salah satu lembaga pendidikan pesantren modern di Indonesia. Tak cukup disitu, bahkan Gontor digadang- gadang sebagai Lembaga yang menjadi kiblat pesantren Modern di Indonesia. Sejak berdirinya di tahun 1926, Gontor terus berkembang dan eksis sampai saat ini.

            Pesantren yang memiliki nama asli Darussalam ini, memiliki banyak falsafah yang dapat mengubah karakter dan sikap seluruh elemen didalamnya, baik Pimpinan, asatidz, dan santri- santri. Diantara salah satu falsafah yang sering digaungkan adalah “Jarum jatuh kedengaran.”

Aula yang hening ketika perkumpulan

Ungkapan yang lebih dikenal santri sebagai falsafah pondok itu ternyata merupakan kiasan dari fenomena perkumpulan di pesantren Gontor. Terdengarnya jarum jatuh ketika perkumpulan diselenggarakan di aula yang diisi kurang lebih 4000 santri ternyata menggambarkan bahwa kendati diikuti oleh ribuan santri, kondisi hening dan tenang tetap terlaksana bahkan hingga akhir acara.

Kekhidmatan santri dalam menerima dan mencerna apa yang disampaikan pimpinan pondok, membuat suasana aula menjadi hening dan benar- benar senyap. Bahkan apabila ada jarum yang jatuh, maka itu akan terdengar. Hal ini dikarenakan tidak adanya suara riuh, ribut, kegaduhan yang dilakukan santri. Mereka fokus dan khusyu’ menyimak apa yang disampaikan pimpinan.

Sebuah “jarum” membentuk good character santri

            Kiasan dengan menggunakan perumpamaan “jarum” ini ternyata berdampak besar dalam membentuk kepribadian seluruh elemen pesantren, terlebih kalangan santri. Dari falsafah ini, para santri tergerak hatinya untuk menghormati suatu pertemuan sekaligus pembicara dalam forum tersebut.

            Dengan memahami falsafah “Jarum jatuh kedengaran”, secara otomatis good character akan terbentuk dengan baik. Terlebih santri selama empat tahun (minimal) tidak hanya mendengar falsafah tersebut, melainkan juga membaca dari tulisan- tulisan yang terpajang di berbagai titik pesantren. Maka, dari fenomena ini, kita belajar bahwa benda sekecil jarum dapat memberikan nilai yang besar dalam kehidupan.

Berebut menyeduh kopi hitam