Minggu, 24 Agustus 2025

Cinlok saat KKN memang bisa berakhir indah di pelaminan, tapi nyatanya lebih banyak yang kandas seiring selesainya KKN

 


Ada fakta unik yang perlu diketahui para mahasiswa akhir yang akan atau sedang KKN perihal cinlok. Fakta itu yaitu potensi kandasnya hubungan yang sangat besar pasca selesai KKN. Meskipun tulisan ini tidak disusun berdasarkan data-data ilmiah yang diolah dari hasil survey mahasiswa akhir, tapi obrolan saya dengan korban-korban cinlok KKN setidaknya membuktikan kebenaran dari pernyataan saya perihal ini.

Cinlok adalah keniscayaan

Cinlok adalah keniscayaan. Tentu pernyataan ini adalah suatu hal yang tidak bisa saya pungkiri kebenarannya. Dari berbagai metode pendekatan hubungan asmara, cinlok adalah metode yang menurut saya relatif tepat dan aman. Ketimbang taaruf atau lewat biro jodoh, cinlok jauh lebih banyak memiliki keunggulan.

Biasanya cinlok hadir karena terbiasa. Terbiasa bertemu, terbiasa berinteraksi, terbiasa saling membantu, hingga akhirnya tidak terasa timbullah rasa cinta. Witing tresno jalaran soko kulino. Begitulah kira-kira kata orang Jawa.

Dengan cinlok, seseorang dapat mengetahui kepribadian, kelebihan, kekurangan, selera humor, dan banyak hal lainnya yang belum tentu bisa didapati jika mencari jodoh lewat taaruf atau biro. Sebetulnya ada banyak sekali macam cinlok. Cinlok organisasi, cinlok tempat kerja, cinlok pengajian, cinlok even, dan masih banyak lainnya. Dari sekian banyak cinlok yang saya ketahui, ada satu cinlok yang menurut saya perlu untuk dihindari atau paling tidak diwaspadai, yaitu cinlok KKN.

Jangan Cinlok saat KKN

            “Jangan sampai yang bertahun-tahun kalah sama yang 45 hari!” kira-kira begitulah kalimat yang sering muncul ketika musim KKN tiba. Pernyataan itu bukanlah tanpa arti, lebih dari itu kalimat “Jangan sampai yang bertahun-tahun kalah sama yang 45 hari!” menyimpan makna yang sangat luas untuk dijabarkan.

Berdasarkan cerita dan pengalaman teman-teman saya perihal cinlok KKN, saya menyimpulkan pada satu hal, Jangan cinlok saat KKN! Tentu saja ini bukan larangan mutlak, tapi untuk menghindari cidro, usahakan untuk tidak cinlok saat KKN. Setidaknya ada beberapa alasan mengapa saya sangat tidak merekomendasikan cinlok saat KKN.

            Pertama, Tidak tahu latar belakang pasangan. Meskipun hidup dan interaksi bersama selama 45 hari, tidak sedikit dari pasangan cinlok yang belum tau banyak tentang seluk beluk pasangannya. Bayangkan, ketika salah satu pihak sudah terlanjur bucin parah. Ehh... Ternyata pasangannya sudah punya pacar yang ternyata disembunyikan darinya.

Coba bayangkan gimana sakit hatinya Cuma? Ya emang jahat banget sih. Tapi orang modelan kaya gitu ada loh. Kalo bener-bener suka, pastikan dulu ya latar belakang pasangannya. Jangan asal cinlok.

            Kedua, Gagal cinlok saat KKN yang 45 hari itu, lukanya bisa berbulan bahkan bertahun-tahun. Sebetulnya saya juga sedikit mbatin ketika teman saya menceritakan perihal lukanya. “Alay” begitu kira-kira saya bergumam dalam hati. Selepas tiga bulan KKN usai, teman saya masih saja galau karena putus sama cewekknya yang ia temui saat KKN.

            Memang sekilas alay sih. Tapi ketika teman saya menjelaskan bagaimana ia diperhatikan, dibikinin kopi setiap malam, ngobrol random dan bercanda tiap hari selama 45 hari, saya bisa sedikit memakluminya. Meskipun Cuma 45 hari, tapi kalau se-intens itu, ya mungkin tidak se-alay seperti yang saya bayangkan sebelumnya lah ya.

            Ketiga, Kegagalan cinlok saat KKN akan berdampak besar saat life after KKN. Ini yang paling berbahaya. Ada yang lebih parah dari galau yang tidak berujung selama tiga bulan, yaitu progres tugas akhir yang terhambat sampai tiga semester. Lagi-lagi memang terlihat alay, tapi bagi seorang yang sedang dilanda asmara, gagal cinta pasca KKN menjadi hal yang sangat menghambat tugas akhir.

Resiko terbesar ketika cinlok saat KKN

                Ini yang juga terjadi pada salah satu teman saya. Bayangkan, hanya karena cintanya berakhir seiring berakhirnya masa KKN, ia kesulitan menyelesaikan tugas akhirnya. Setiap buka laptop, terbayang memori indah bersama pasangannya dulu saat KKN. Ini menyebabkan ia tidak dapat berpikir jernih dan segera menyelesaikan tugas akhirnya.

                Tiga semester bukanlah waktu yang sebentar bukan? Bayangkan dampak dari gagalnya cinlok ternyata tidak hanya berdampak kepada yang bersangkutan. Lebih berbahaya dari itu, dampaknya ternyata juga dirasakan oleh orang tuanya. Lha wong temen saya kuliahnya masih dibayarin orang tua. Kan kasihan juga to orang tuanya? harus mbayari kuliah anaknya selama tiga semester karena faktor yang sebetulnya bisa-bisa saja diantisipasi dari awal masa KKN.

                Jadi sebelum terjadi dan menyesal. Jangan cinlok saat KKN ya adik-adik!

Berebut menyeduh kopi hitam