Mengenyam
pendidikan di Universitas terbaik negeri ini adalah cita-cita banyak orang.
Tidak sedikit dari kawula muda yang rela gap year setahun atau lebih
hanya untuk memperdalam studi (bimbel, privat, kursus) agar dapat merasakan
barometer pendidikan di Universitas Terbaik. Namun ada juga di antara mereka
yang sebelumnya bukan berasal dari SLTA favorit atau siswa teladan disekolahnya
yang beruntung dapat bersaing dengan murid murid unggulan se-antero nusantara.
Agus adalah salah satunya.
***
“Gus, kamu kok bisa kuliah disini sih?”
Aryo bertanya heran.
Aryo
adalah salah satu teman Agus yang juga merupakan mahasiswa di UMASDERAH.[1]
Selain itu, ia juga lulusan terbaik di SMA Favorit di kotanya dulu. Jadi tidak
heran jika ia dapat lolos seleksi untuk masuk perguruan tinggi bergengsi itu.
Sedangkan Agus? Hey, Ia hanyalah seorang santri lulusan salah satu pesantren di
Jawa timur yang tidak besar besar amat, track record prestasi Agus pun
biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa, bahkan bisa dikatakan standar
kebawah. Itulah yang membuat Aryo menanyakan perihal tadi.
“Lha kenapa yo, kok kamu tanya begitu?” dengan
logat jawa yang medok, bukannya menjawab, Agus malah balik bertanya.
“Nggak gitu lo gus, aku kan kemarin lihat
Biodata kamu di kantor TU[2],
trus di antara temen temen lain, Cuma kamu yang bukan dari sekolah favorit. Dan
nilai kamu juga ngga bagus bagus amat.” Aryo menjelaskan musabab ia bertanya.
Harapannya agar Agus sukarela menjelaskan perihal tersebut.
“Aku juga masih bertanya-tanya perihal itu
yo, bukan cuma kamu aja yang kaget. Teman teman dan guru se-pesantrenku dulu
juga terheran heran.” Agus menaggapi pertanyaan kawannya itu. Tanggapan yang
sesungguhnya tidak memuaskan Aryo, namun ia tidak bertanya lebih lanjut. Agus
mungkin tidak bisa menjawabnya saat itu, namun semoga lain waktu ada jawaban
dari pertanyaan tersebut, meskipun bukan dari lisan Agus.
***
Hari
itu adalah kali pertamanya mereka masuk kelas. Agus dan Aryo duduk bersebelahan
dibarisan paling belakang. Bukannya tidak mau duduk di depan, namun bangku
barisan depan telah penuh diisi dengan mahasiswa baru lainnya yang antusias
untuk mengikuti pelajaran. Padahal kelas akan dimulai 15 menit mendatang. Namun
para mahasiswa telah ramai memadati kelas.
“Keren parah emang, ngga ada tempat buat
malas-malasan disini, teman-teman yang kuhadapi adalah orang-orang ambisius
yang berasal dari sekolah Favorit seluruh Indonesia.” Aryo bergumam dalam hati.
Pandangan Aryo
menyapu seluruh wilayah kelas yang dapat dijangkaunya. Ia benar-benar terkagum.
Tidak sedikit dari mereka yang membawa buku-buku tebal, membacanya sembari
menunggu dosen pengampu datang untuk memulai kelas. Selain pemandangan itu ada
hal lain yang juga membuat Aryo terkagum, bukan hanya terkagum, Aryo bahkan
menepuk punggung Agus untuk menujukkan apa yang ia lihat.
“Gus gus, coba lihat itu” tangan kiri Aryo
menepuk punggung Agus, jari tangan kanannya menunjuk kearah dua barisan kursi
didepannya. Jaraknya tidak terlalu dekat, namun masih dapat jelas dijangkau
oleh pengelihatan mata.
“kenapa emangnya yo?” Agus balik bertanya,
tidak ada raut ekspresi kagum di wajahnya.
“emang kamu ngga lihat? Itu lo” Aryo
kembali menunjukkan apa yang membuatnya terkagum.
“Iya, aku lihat kok, emangnya kenapa?” kali
keduanya Agus bertanya. Seakan-akan tidak ada hal menarik yang mebuatnya
terkejut.
“Ish, kamu ini gus, itu loh, kamu
perhatikan baik baik deh, pokoknya setelah jam perkuliahan kamu temenin aku
yah, temui dia” Sekali lagi, Aryo menunjukkan apa yang membuatnya terkagum.
Agus hanya terdiam, tidak menimpali permintaan temannya.
Kala
itu Aryo melihat seorang wanita didepannya. Kebetulan sekali wanita itu
menghadap kebelakang yang tampaknya sedang mengembalikan pulpen yang dipinjamnya
dari temannya. Hal itu yang menyebabkan Aryo dapat melihat paras cantiknya dan
terkagum seketika.
Bagaimana
tidak, kulit putihnya bersinar sangat menawan seakan akan cahaya kedamaian
menyelimutinya, giginya tampak lucu, ditambah dengan gingsul kanan yang sedikit
terlihat bak gigi kelinci, lesung pipinya imut mempesona, juga balutan jilbab
biru muda yang tidak memberikan sedikitpun ruang alasan untuk tidak terkagum
dengannya. Bolehjadi hanya Agus saja, yang tampak biasa biasa saja ketika
ditunjukkan perihal wanita tadi.
“Baik teman-teman, jam sudah menunjukkan
pukul satu siang, mari kita mulai pelajarannya.” Suara seorang lelaki paruh
baya membuyarkan lamunan Aryo. Tak lain lelaki paruh baya itu adalah dosen
mereka yang akan mumulai perkuliahan mereka dihari pertama mereka masuk kelas. Juga
hari pertama mereka merasakan atsmosfer persaingan belajar di salah satu kampus
terbaik di negeri ini.
***
“Gus, ayo temenin aku ketemu sama perempuan
tadi.” Selesai kelas, untuk kali keduanya Aryo meminta agus untuk menemaninya
menemui Wanita tadi.
“Arep ngopo sih yo?” [3]
Agus terlihat sedikit kesal dipaksa.
“Temenin sebentar lah, apa salahnya kita
kenalan, ngga ada salahnya kan menambah teman, toh juga dengan punya banyak
teman ngga membuat kita rugi kan? Lagi pula kan.., ” belum tuntas Aryo
menjelaskan, Wanita berjilbab biru muda tadi melintas di depan mereka berdua.
“Hey, kak!” Aryo spontan memanggil wanita
tadi tanpa disengaja. Yang dipanggil pun menoleh, paras cantiknya terlihat
semakin nyata dengan jarak yang lebih dekat.
“Eh, iya” Wanita yang dipanggilnya pun
spontan menoleh, melihat kearah dua sosok pemuda di depannya.
“ee, nggak apa-apa, cuma manggil aja,
kenalin, aku Aryo, Ilmu Komunikasi. Dan ini teman aku Agus. Kita berdua masih
satu prodi” Aryo memperkenalkan dirinya sembari mengulurkan tangan, tak ia juga
memperkenalkan Agus.
“oh, kita sekelas ya, perkenalkan aku Ulfa,
lengkapnya Ulfa Rahmawati. Aku juga Ilmu Komunikasi loh. Salam kenal Aryo,
Agus” dengan ramah Wanita itu memperkenalkan dirinya. Namun tangannya tidak
menyambut uluran tangan Aryo, melainkan menyedekapkan kedua tangannya sejajar
dengan dada. Agus yang paham akan maksud Wanita itu, melalukankan yang serupa.
Sedangkan Aryo yang mengulurkan tangannya, memilih untuk menarik kembali dan
melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Agus dan Ulfa.
“Nggak papa salamnya bertepuk sebelah
tangan, asal cintanya tidak” Aryo membatin, berusaha menghibur dirinya dalam
hati.
“Yasudah, Aryo, Agus, aku duluan yah,
soalnya masih ada kegiatan lain di rumah. oh iya jangan panggil aku kak ya,
kita seumuran kok, Assalamualaikum.” Ulfa mengakhiri percakapan. Ia bergegas
meninggalkan dua teman barunya itu tanpa meminta persetujuan mereka. Balik
badan dan pergi menjauh ke arah yang berlawanan.
“Waalaikumussalam” Agus dan Aryo menjawab
bersamaan. Bedanya Agus menjawab dengan
menunduk kebawah (ia melakukannya sejak tadi, pertama kali bertemu Ulfa).
Sedangkan mata Aryo masih terus melihat punggung Ulfa yang terus tampak
mengecil karena terus menjauh.
***
Perkenalan
itu seakan akan menjadi titik terang awal mula “perjuangan” Aryo dalam mengejar
Cinta Ulfa. Ia kerapkali mendatangi Ulfa hanya untuk memberikan hadiah-hadiah
sederhana. Menawarkan makan siang bersama, diskusi, atau kegiatan apalah yang
dapat dilakukan bersama sama. Lalu Agus? Ahh, mana sempat ia memikirkan hal
seperti itu, Agus fokus belajar dan mengejar ketertinggalan teman-temannya yang
berasal dari sekolah favorit. Harapannya agar ia dapat menjadi lulusan terbaik.
Kalah start bukan berarti kalah finish kan?
Tapi
nasib tetaplah nasib, berapa kali dari total sekian puluh ajakan Aryo kepada
Ulfa dalam sebulan terakhir yang dipenuhi? Nihil. Atau berapa banyak hadiah
pemberian Aryo yang diterima Ulfah? Nihil juga. Kosong. Tidak ada. Tentu saja
hal ini membuatnya frustasi. Tidak sedikit waktu, tenaga, harta yang ia
korbankan. Namun hasilnya tidak menunjukkan sebuah kemajuan. Hingga suatu saat
ia curhat kepada sahabat karibnya.
“Gus, kenapa ya tiap kali aku coba dekatin
Ulfa, dia seakan-akan selalu menolak, selalu menghindar gitu gus. Kira kira
kenapa ya?”
“sebenarnya ada apasih dengan cinta? Emang
aku kurang ganteng ya Gus? Atau motorku kurang keren? atau outfitku
norak?” Aryo menghujani Agus dengan banyak pertanyaan yang sebenarnya terlihat
tidak terlalu penting bagi Agus, namun bisa jadi hal itu sangatlah penting bagi
Aryo. Agaknya ia telah berada dititik keputus-asaan dalam mendekati Ulfa
Agus
menghela napas sejenak, menutup laptop yang sejaktadi menjadi pusat
perhatiannya. Kali ini bukan karena ia lelah atau hendak beristirahat. Namun
lebih tepatnya ia merasakan kala itu adalah momen yang tepat untuk menasihati
sahabat karibnya itu.
“ada apa dengan cinta? Sepertinya menarik
ya, untuk dijelaskan. Baiklah aku akan sedikit memberikan sedikit pendapatku
perihal cinta. Kamu boleh saja menerima jika ini baik menurutmu, tapi tidak ada
larangan juga untuk menolak, jika apa yang aku sampaikan tidak sesuai dengan
kehendakmu” Agus memperbaiki tempat duduknya, mencari posisi senyaman mungkin.
“Jadi gini yo, menurutku tidak ada yang
salah dengan cinta. Seorang ayah rela bekerja keras siang malam demi anaknya, guru-guru
bepergian dari rumah ke sekolah menempuh jarak yang tidak sedikit hanya untuk
mendidik anak dan mencerdaskan kehidupan bangsa, seorang petani rela
bermandikan peluh dibawah sinar terik matahari agar dapat memberikan beras
terbaik untuk umat manusia. Dan banyak contoh pengorbanan lainnya yang
berasaskan landasan Cinta. Ada apa dengan cinta? Tentu saja tidak ada masalah
dengan cinta yo, Cinta dapat menjadi support system bagi siapa saja yang
merasakannya. Begitu pula sebaliknya.”
“Jangan pernah menyalahkan cinta, sebagaimana
orang-orang menyalahkan koruptor karena kapasitas keilmuan yang dimiliki. Andai
kata orang-orang melihat dari perspektif lain yang mana dengan keilmuannya
orang-orang dapat menolong sesama umat manusia, memberikan buah pemikiran baru,
teknologi mutakhir, dan masih banyak hal hal baik lainnya yang berawal dari
seorang tokoh yang memiliki kapasitas ilmu yang cukup.”
“Rasa Cinta itu wajar yo, lumrah, normal.
Namun banyak orang yang melupakan rule atau aturan dalam menjalani
ikatan Cinta. Dalam suatu hubungan, Cinta harus berdasarkan etis dan etika.
Idealnya cinta itu harus berlandaskan dengan ilmu bukan Nafsu. Cinta tidak
didasari dengan kebodohan. Ada aturan dan etika yang harus dilakukan manusia
agar mendapatkan apa yang ia cintai.”
“Nah gini yo, walaupun aku terkesan bodo
amat dan tidak peduli dengan urusan kalian berdua, tapi ada beberapa poin
penting yang aku dapati perihal Ulfa, terlepas poin itu benar atau salah”
“Apa gus, apa?” Aryo menyela penjelasan
Agus. Ia terlihat tidak sabar.
“dari segi penampilan Ulfa, nampaknya ia
adalah sosok yang agamis, kendati aku tidak tau dia alumni pesantren sepertiku
atau bukan. Tapi menurut hematku, orang yang agamis biasanya tidak menyukai
tindakan agresif seperti yang kamu lakukan kemarin-kemarin, seperti memberi
hadiah lah, ngajak makan bersama lah, atau apalah itu yang diklaim oleh anak
muda sekarang sebagai tren dan sesuatu yang keren. Karena dengan merespon
bahkan hal- hal seperti itu menunjukkan bahwa seorang wanita telah membuka hati
terhadap laki-laki yang melakukannya. Dan hal tersebut secara tidak langsung
membuka pintu kemaksiatan.”
“Jadi, sebaiknya apa yang aku lakukan?”
Aryo meminta saran
“Ya, kamu tinggalin aja dia, kasihkan aku aja,
hehehe” Agus menimpali sekenanya. Bukannya menjawab seirus, ia malah menggoda
Aryo.
“SERIUS AGUS!” Aryo meninggikan volume
suara juga intonasinya. Tentu saja ia kesal.
“Iya yo, iya. Santai. Aku bercanda. Aku
punya beberapa tip yo untuk mendekati Ulfa yang terkesan agamis itu. Pertama,
kalau kamu merasa mampu menikahinya dalam jangka waktu yang tidak lama, maka
tawarkanlah hal itu kepadanya. Kedua, jika kamu berasa belum mampu melakukan
yang pertama, maka langitkanlah doa. Dekati penciptanya, utarakan Hajatmu dalam
sepertiga malam. Itu sudah lebih dari cukup untuk mendapatkannya.” Agus
menjelaskan dengan mantap.
“Jika aku ditanya sudah ingin menikah, maka
aku akan dengan mantap menjawab iya, gus, tapi kok agaknya aku belum mampu ya
gus, kondisi finansialku juga belum stabil.” Aryo menimpali.
“Jika kamu sudah ingin menikah tapi merasa
belum mampu, maka perbanyaklah puasa[4].
Tapi, jika yang kamu takutkan perihal finasial, maka percayalah bahwa Allah
akan memberikan kemudahan jalan Rezeki bagi siapa saja yang menikah karena
Allah semata[5].”
“Percuma merubah istilah pacarana dengan
term lain seperti komitmen lah, atau bestie lah, TTM-an lah, atau apalah
itu, jika substansinya sama, maka hukumnya tetaplah sama, Allah melarang umat
islam untuk berzina, wah…, jangankan zina, mendekati saja tidak boleh[6].
Kamu umat Islam kan?” Agus bertanya dengan intonasi yang seakan akan mengejek.
“Iya iya, gus. Yailah, udah kaya guru
agamaku aja kamu” Aryo menjawab kesal.
“Bukannya gitu yo, kan yang kamu sukai itu
orangnya agamis, ya kamu juga harus memperjuangkannya dengan pendekatan agama.
Ya memang aku bukan tuhan sih yang firmannya harus tolak ukur pedoman hidup.
Ataupun Rasul yang sabdanya harus selalu ditaati. Aku manusia biasa yang hanya
sekedar memberikan saran dan nasehat. Adapun kamu mau mengikuti atau engga itu
urusanmu.” Ujar Agus.
“Oke deh, aku coba siapa tahu berhasil. Thanks
ya gus“. Aryo menepuk Pundak Agus.
***
Hari
demi hari berlalu, bulan pun berganti tak terasa. Aryo dan Agus masih menjalani
rutinitas seperti biasa. Kuliah, Nongkrong di kafe untuk sekedar melepas penat
sembari diskusi ringan atau apalah itu. Tidak ada perubahan signifikan dalam
aktivitas keseharian mereka. Namun ada yang berbeda dari penampilan mereka,
terkhusus Aryo.
Semenjak
mendapatkan saran dari Agus, ia terlihat lebih alim dari sebelumnya.
Penampilannya kini tak jauh berbeda dari sahabat karibnya itu. Aryo terlihat
lebih sederhana, motornya ia ganti menjadi motor tua, bahkan bahasa tubuhnya
pun terlihat jauh lebih ramah dari pertama kali ia masuk kuliah. Apakah itu ia
lakukan demi Ulfa? Awalnya memang iya. Tapi semakin kesini, ia paham bahwa
kebahagiaan tidak melulu perihal cinta. Bahkan ia merasa jauh lebih Bahagia
dengan mengikuti saran Agus walaupun ia tidak, -atau mugkin belum- mendapatkan
hati Ulfa.
“Yo, udah move on sama Ulfa?” Agus
membuka percakapan. Kala itu mereka sedang berada di kantin fakultas.
“yah, gimana ya gus, harapan sih masih ada.
Tapi kalau memang bukan rezeki ya aku gini juga sudah lebih dari bahagia kok. Ngomong-ngomong,
makasihnya sarannya dulu. Emang kamu sahabatku paling top.” Ujar Aryo
“Ya memang seperti itu kewajiban sesama Muslim,
harus saling mengingatkan dan menasihati.” Agus menjawab seadanya.
“Gus, aku pengen kasih tau sesuatu nih, kan
aku dua minggu terakhir ini diminta kursus anak kecil belajar ngaji. Aku juga
ngga tau sih kok bisa aku yang diminta. Mungkin karena penampilanku yang
seperti ustaz kali ya? Walaupun sebelumnya aku ragu, tapi bismillah aku
coba. Toh pencopet aja berani nekat demi sebuah kejahatan. Masa, aku ngga
berani nekat demi kebaikan. Walhasil, seperti yang aku katakan tadi, dua minggu
terakhir aku mengajar anak mengaji.”
“tapi yang aku heran gus, anak kecil itu
pinter banget, baru 2 minggu aku ajar dia sudah iqro[7]
jilid lima. Padahal anak-anak pada umumnya, dalam kurun waktu dua minggu belum
tentu mereka lulus satu jilid. Dan anehnya, orang tua anak itu merasa bahwa aku
yang pandai dalam mengajar anak mereka. Kata orang tuanya, dari dulu gonta-ganti
guru ngaji tapi tidak pernah benar, sampai akhirnya aku yang bisa mengajari
anaknya ngaji. Orang tuanya seneng banget gus. Sampe-sampe aku mau dijodohin
sama kakaknya anak kecil itu. Nanti sore, aku disuruh datang ke rumahnya. Ujar
Aryo yang menunjukkan raut muka yang seakan akan menunjukkan ketidaksukaannya.
“Trus Ulfa gimana, udah move on?”
Agus bertanya singkat.
“itu dia masalahnya, atau aku sore ini ngga
perlu datang ya gus, bilang ada acara atau apalah itu”
“tapi menurutku, kamu tetap harus datang
dulu. Toh juga bisa jadi kakaknya anak tadi lebih baik dari Ulfa. Atau juga
kalau misalnya kamu tidak suka kan kamu bisa menolak baik-baik. Itu lebih
elegan daripada kamu menghindari pertemuan itu.” Agus memberi saran.
“Oke deh. Tapi kamu temenin ya.” Jawab
aryo.
***
Sore
itu mereka berdua berangkat ke rumah anak yang biasa diajar Aryo. Tidak terlalu
jauh dari kampus, hanya beberapa kilometer saja. Namun mereka berdua harus
berangkat lebih awal, antisipasi jalanan macet karena sore hari merupakan jam
kerja.
Sepuluh
menit berselang. Mereka berdua telah sampai tujuan. Orang tua dari anak kecil
yang diajar Aryo telah menunggu di dalam.
“Assalamualaikum pak, sudah lama
menunggu ya? Mohon maaf sedikit terlambat, tadi jalanan macet” Aryo basa basi
sejenak, berusaha menghilangkan gugup yang tentusaja sebetulnya masih terlihat.
“Waalaikumussalam nak, ndak papa.
Silakan masuk.” Si bapak mempersilakan mereka berdua masuk.
Di
dalam, mereka berbincang hangat tentang apa saja yang terlintas dipikiran. Aryo
masih terlihat gugup meskipun telah berusaha menutupinya. Beruntung Agus juga
turut berkecimpung dalam obrolan ringan tersebut. Tak lama kemudian, muncul
seorang Wanita mengantarkan beberapa gelas minuman untuk disuguhkan.
“Nah, ini kakaknya Radit” Radit adalah anak
yang biasa belajar mengaji dengan Aryo. Si bapak memperkenalkan kakaknya Radit.
Tentusaja
pandangan Aryo juga Agus tertuju kepada wanita yang membawa minuman. Pun dengan
Wanita yang meilhat kearah kedua tamunya. Dan lihatlah mereka sama sama
terkejut.
“ARYO”
“ULFA” mereka memanggil bersamaan.
Aryo
betul betul tidak menyangka jika kakanya Radit adalah Ulfa, wanita yang selama
ini ia cintai. Pun dengan Ulfa yang tidak mengetahui guru ngaji adiknya. Ia
terlalu sibuk dengan tugas kuliahnya sehingga tidak sempat memperhatikan
perihal itu. Aryo benar-benar terkejut, ternyata Wanita yang ia cintai adalah
yang akan dijodohkan oleh seseorang yang telah dijadikan perantara oleh Allah.
Aryo benar-benar belajar banyak dari Agus akan keagungan tuhan. “Cintai
penciptanya, maka Allah mendekatkan dengan mahkluk yang kamu Cintai”.
[1] Universitas Masa Depan Cerah, yaitu salah satu kampus
terbaik se-antero nusantara.
[2] Tata Usaha, Sebuah sektor dalam dunia Pekerjaan yang
biasanya berkecimpung dalam urusan administrasi.
[3] Mau Ngapain sih, yo? (Bahasa Jawa).
[4] H.R. bukhori no. 5065 dan muslim no. 1400.
[5] Q.S. An nur Ayat 32.
[6] Q.S. Al Isra Ayat 32.
[7] Salah satu metode dalam mempelajari Alquran.
