Minggu, 23 Maret 2025

Kampus, Kursus, dan Jodoh Idaman pilihan Tuhan

 

 

Mengenyam pendidikan di Universitas terbaik negeri ini adalah cita-cita banyak orang. Tidak sedikit dari kawula muda yang rela gap year setahun atau lebih hanya untuk memperdalam studi (bimbel, privat, kursus) agar dapat merasakan barometer pendidikan di Universitas Terbaik. Namun ada juga di antara mereka yang sebelumnya bukan berasal dari SLTA favorit atau siswa teladan disekolahnya yang beruntung dapat bersaing dengan murid murid unggulan se-antero nusantara. Agus adalah salah satunya.

***

“Gus, kamu kok bisa kuliah disini sih?” Aryo bertanya heran.

            Aryo adalah salah satu teman Agus yang juga merupakan mahasiswa di UMASDERAH.[1] Selain itu, ia juga lulusan terbaik di SMA Favorit di kotanya dulu. Jadi tidak heran jika ia dapat lolos seleksi untuk masuk perguruan tinggi bergengsi itu. Sedangkan Agus? Hey, Ia hanyalah seorang santri lulusan salah satu pesantren di Jawa timur yang tidak besar besar amat, track record prestasi Agus pun biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa, bahkan bisa dikatakan standar kebawah. Itulah yang membuat Aryo menanyakan perihal tadi.

“Lha kenapa yo, kok kamu tanya begitu?” dengan logat jawa yang medok, bukannya menjawab, Agus malah balik bertanya.

“Nggak gitu lo gus, aku kan kemarin lihat Biodata kamu di kantor TU[2], trus di antara temen temen lain, Cuma kamu yang bukan dari sekolah favorit. Dan nilai kamu juga ngga bagus bagus amat.” Aryo menjelaskan musabab ia bertanya. Harapannya agar Agus sukarela menjelaskan perihal tersebut.

“Aku juga masih bertanya-tanya perihal itu yo, bukan cuma kamu aja yang kaget. Teman teman dan guru se-pesantrenku dulu juga terheran heran.” Agus menaggapi pertanyaan kawannya itu. Tanggapan yang sesungguhnya tidak memuaskan Aryo, namun ia tidak bertanya lebih lanjut. Agus mungkin tidak bisa menjawabnya saat itu, namun semoga lain waktu ada jawaban dari pertanyaan tersebut, meskipun bukan dari lisan Agus.

***

            Hari itu adalah kali pertamanya mereka masuk kelas. Agus dan Aryo duduk bersebelahan dibarisan paling belakang. Bukannya tidak mau duduk di depan, namun bangku barisan depan telah penuh diisi dengan mahasiswa baru lainnya yang antusias untuk mengikuti pelajaran. Padahal kelas akan dimulai 15 menit mendatang. Namun para mahasiswa telah ramai memadati kelas.

“Keren parah emang, ngga ada tempat buat malas-malasan disini, teman-teman yang kuhadapi adalah orang-orang ambisius yang berasal dari sekolah Favorit seluruh Indonesia.” Aryo bergumam dalam hati.

Pandangan Aryo menyapu seluruh wilayah kelas yang dapat dijangkaunya. Ia benar-benar terkagum. Tidak sedikit dari mereka yang membawa buku-buku tebal, membacanya sembari menunggu dosen pengampu datang untuk memulai kelas. Selain pemandangan itu ada hal lain yang juga membuat Aryo terkagum, bukan hanya terkagum, Aryo bahkan menepuk punggung Agus untuk menujukkan apa yang ia lihat.

“Gus gus, coba lihat itu” tangan kiri Aryo menepuk punggung Agus, jari tangan kanannya menunjuk kearah dua barisan kursi didepannya. Jaraknya tidak terlalu dekat, namun masih dapat jelas dijangkau oleh pengelihatan mata.

“kenapa emangnya yo?” Agus balik bertanya, tidak ada raut ekspresi kagum di wajahnya.

“emang kamu ngga lihat? Itu lo” Aryo kembali menunjukkan apa yang membuatnya terkagum.

“Iya, aku lihat kok, emangnya kenapa?” kali keduanya Agus bertanya. Seakan-akan tidak ada hal menarik yang mebuatnya terkejut.

“Ish, kamu ini gus, itu loh, kamu perhatikan baik baik deh, pokoknya setelah jam perkuliahan kamu temenin aku yah, temui dia” Sekali lagi, Aryo menunjukkan apa yang membuatnya terkagum. Agus hanya terdiam, tidak menimpali permintaan temannya.

            Kala itu Aryo melihat seorang wanita didepannya. Kebetulan sekali wanita itu menghadap kebelakang yang tampaknya sedang mengembalikan pulpen yang dipinjamnya dari temannya. Hal itu yang menyebabkan Aryo dapat melihat paras cantiknya dan terkagum seketika.

Bagaimana tidak, kulit putihnya bersinar sangat menawan seakan akan cahaya kedamaian menyelimutinya, giginya tampak lucu, ditambah dengan gingsul kanan yang sedikit terlihat bak gigi kelinci, lesung pipinya imut mempesona, juga balutan jilbab biru muda yang tidak memberikan sedikitpun ruang alasan untuk tidak terkagum dengannya. Bolehjadi hanya Agus saja, yang tampak biasa biasa saja ketika ditunjukkan perihal wanita tadi.

“Baik teman-teman, jam sudah menunjukkan pukul satu siang, mari kita mulai pelajarannya.” Suara seorang lelaki paruh baya membuyarkan lamunan Aryo. Tak lain lelaki paruh baya itu adalah dosen mereka yang akan mumulai perkuliahan mereka dihari pertama mereka masuk kelas. Juga hari pertama mereka merasakan atsmosfer persaingan belajar di salah satu kampus terbaik di negeri ini.

***

“Gus, ayo temenin aku ketemu sama perempuan tadi.” Selesai kelas, untuk kali keduanya Aryo meminta agus untuk menemaninya menemui Wanita tadi.

“Arep ngopo sih yo?” [3] Agus terlihat sedikit kesal dipaksa.

“Temenin sebentar lah, apa salahnya kita kenalan, ngga ada salahnya kan menambah teman, toh juga dengan punya banyak teman ngga membuat kita rugi kan? Lagi pula kan.., ” belum tuntas Aryo menjelaskan, Wanita berjilbab biru muda tadi melintas di depan mereka berdua.

“Hey, kak!” Aryo spontan memanggil wanita tadi tanpa disengaja. Yang dipanggil pun menoleh, paras cantiknya terlihat semakin nyata dengan jarak yang lebih dekat.

“Eh, iya” Wanita yang dipanggilnya pun spontan menoleh, melihat kearah dua sosok pemuda di depannya.

“ee, nggak apa-apa, cuma manggil aja, kenalin, aku Aryo, Ilmu Komunikasi. Dan ini teman aku Agus. Kita berdua masih satu prodi” Aryo memperkenalkan dirinya sembari mengulurkan tangan, tak ia juga memperkenalkan Agus.

“oh, kita sekelas ya, perkenalkan aku Ulfa, lengkapnya Ulfa Rahmawati. Aku juga Ilmu Komunikasi loh. Salam kenal Aryo, Agus” dengan ramah Wanita itu memperkenalkan dirinya. Namun tangannya tidak menyambut uluran tangan Aryo, melainkan menyedekapkan kedua tangannya sejajar dengan dada. Agus yang paham akan maksud Wanita itu, melalukankan yang serupa. Sedangkan Aryo yang mengulurkan tangannya, memilih untuk menarik kembali dan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Agus dan Ulfa.

“Nggak papa salamnya bertepuk sebelah tangan, asal cintanya tidak” Aryo membatin, berusaha menghibur dirinya dalam hati.

“Yasudah, Aryo, Agus, aku duluan yah, soalnya masih ada kegiatan lain di rumah. oh iya jangan panggil aku kak ya, kita seumuran kok, Assalamualaikum.” Ulfa mengakhiri percakapan. Ia bergegas meninggalkan dua teman barunya itu tanpa meminta persetujuan mereka. Balik badan dan pergi menjauh ke arah yang berlawanan.

“Waalaikumussalam” Agus dan Aryo menjawab bersamaan.  Bedanya Agus menjawab dengan menunduk kebawah (ia melakukannya sejak tadi, pertama kali bertemu Ulfa). Sedangkan mata Aryo masih terus melihat punggung Ulfa yang terus tampak mengecil karena terus menjauh.

***

            Perkenalan itu seakan akan menjadi titik terang awal mula “perjuangan” Aryo dalam mengejar Cinta Ulfa. Ia kerapkali mendatangi Ulfa hanya untuk memberikan hadiah-hadiah sederhana. Menawarkan makan siang bersama, diskusi, atau kegiatan apalah yang dapat dilakukan bersama sama. Lalu Agus? Ahh, mana sempat ia memikirkan hal seperti itu, Agus fokus belajar dan mengejar ketertinggalan teman-temannya yang berasal dari sekolah favorit. Harapannya agar ia dapat menjadi lulusan terbaik. Kalah start bukan berarti kalah finish kan?

            Tapi nasib tetaplah nasib, berapa kali dari total sekian puluh ajakan Aryo kepada Ulfa dalam sebulan terakhir yang dipenuhi? Nihil. Atau berapa banyak hadiah pemberian Aryo yang diterima Ulfah? Nihil juga. Kosong. Tidak ada. Tentu saja hal ini membuatnya frustasi. Tidak sedikit waktu, tenaga, harta yang ia korbankan. Namun hasilnya tidak menunjukkan sebuah kemajuan. Hingga suatu saat ia curhat kepada sahabat karibnya.

“Gus, kenapa ya tiap kali aku coba dekatin Ulfa, dia seakan-akan selalu menolak, selalu menghindar gitu gus. Kira kira kenapa ya?”

“sebenarnya ada apasih dengan cinta? Emang aku kurang ganteng ya Gus? Atau motorku kurang keren? atau outfitku norak?” Aryo menghujani Agus dengan banyak pertanyaan yang sebenarnya terlihat tidak terlalu penting bagi Agus, namun bisa jadi hal itu sangatlah penting bagi Aryo. Agaknya ia telah berada dititik keputus-asaan dalam mendekati Ulfa

            Agus menghela napas sejenak, menutup laptop yang sejaktadi menjadi pusat perhatiannya. Kali ini bukan karena ia lelah atau hendak beristirahat. Namun lebih tepatnya ia merasakan kala itu adalah momen yang tepat untuk menasihati sahabat karibnya itu.

“ada apa dengan cinta? Sepertinya menarik ya, untuk dijelaskan. Baiklah aku akan sedikit memberikan sedikit pendapatku perihal cinta. Kamu boleh saja menerima jika ini baik menurutmu, tapi tidak ada larangan juga untuk menolak, jika apa yang aku sampaikan tidak sesuai dengan kehendakmu” Agus memperbaiki tempat duduknya, mencari posisi senyaman mungkin.

“Jadi gini yo, menurutku tidak ada yang salah dengan cinta. Seorang ayah rela bekerja keras siang malam demi anaknya, guru-guru bepergian dari rumah ke sekolah menempuh jarak yang tidak sedikit hanya untuk mendidik anak dan mencerdaskan kehidupan bangsa, seorang petani rela bermandikan peluh dibawah sinar terik matahari agar dapat memberikan beras terbaik untuk umat manusia. Dan banyak contoh pengorbanan lainnya yang berasaskan landasan Cinta. Ada apa dengan cinta? Tentu saja tidak ada masalah dengan cinta yo, Cinta dapat menjadi support system bagi siapa saja yang merasakannya. Begitu pula sebaliknya.”

“Jangan pernah menyalahkan cinta, sebagaimana orang-orang menyalahkan koruptor karena kapasitas keilmuan yang dimiliki. Andai kata orang-orang melihat dari perspektif lain yang mana dengan keilmuannya orang-orang dapat menolong sesama umat manusia, memberikan buah pemikiran baru, teknologi mutakhir, dan masih banyak hal hal baik lainnya yang berawal dari seorang tokoh yang memiliki kapasitas ilmu yang cukup.”

“Rasa Cinta itu wajar yo, lumrah, normal. Namun banyak orang yang melupakan rule atau aturan dalam menjalani ikatan Cinta. Dalam suatu hubungan, Cinta harus berdasarkan etis dan etika. Idealnya cinta itu harus berlandaskan dengan ilmu bukan Nafsu. Cinta tidak didasari dengan kebodohan. Ada aturan dan etika yang harus dilakukan manusia agar mendapatkan apa yang ia cintai.”

“Nah gini yo, walaupun aku terkesan bodo amat dan tidak peduli dengan urusan kalian berdua, tapi ada beberapa poin penting yang aku dapati perihal Ulfa, terlepas poin itu benar atau salah”

“Apa gus, apa?” Aryo menyela penjelasan Agus. Ia terlihat tidak sabar.

“dari segi penampilan Ulfa, nampaknya ia adalah sosok yang agamis, kendati aku tidak tau dia alumni pesantren sepertiku atau bukan. Tapi menurut hematku, orang yang agamis biasanya tidak menyukai tindakan agresif seperti yang kamu lakukan kemarin-kemarin, seperti memberi hadiah lah, ngajak makan bersama lah, atau apalah itu yang diklaim oleh anak muda sekarang sebagai tren dan sesuatu yang keren. Karena dengan merespon bahkan hal- hal seperti itu menunjukkan bahwa seorang wanita telah membuka hati terhadap laki-laki yang melakukannya. Dan hal tersebut secara tidak langsung membuka pintu kemaksiatan.”

“Jadi, sebaiknya apa yang aku lakukan?” Aryo meminta saran

“Ya, kamu tinggalin aja dia, kasihkan aku aja, hehehe” Agus menimpali sekenanya. Bukannya menjawab seirus, ia malah menggoda Aryo.

“SERIUS AGUS!” Aryo meninggikan volume suara juga intonasinya. Tentu saja ia kesal.

“Iya yo, iya. Santai. Aku bercanda. Aku punya beberapa tip yo untuk mendekati Ulfa yang terkesan agamis itu. Pertama, kalau kamu merasa mampu menikahinya dalam jangka waktu yang tidak lama, maka tawarkanlah hal itu kepadanya. Kedua, jika kamu berasa belum mampu melakukan yang pertama, maka langitkanlah doa. Dekati penciptanya, utarakan Hajatmu dalam sepertiga malam. Itu sudah lebih dari cukup untuk mendapatkannya.” Agus menjelaskan dengan mantap.

“Jika aku ditanya sudah ingin menikah, maka aku akan dengan mantap menjawab iya, gus, tapi kok agaknya aku belum mampu ya gus, kondisi finansialku juga belum stabil.” Aryo menimpali.

“Jika kamu sudah ingin menikah tapi merasa belum mampu, maka perbanyaklah puasa[4]. Tapi, jika yang kamu takutkan perihal finasial, maka percayalah bahwa Allah akan memberikan kemudahan jalan Rezeki bagi siapa saja yang menikah karena Allah semata[5].”

“Percuma merubah istilah pacarana dengan term lain seperti komitmen lah, atau bestie lah, TTM-an lah, atau apalah itu, jika substansinya sama, maka hukumnya tetaplah sama, Allah melarang umat islam untuk berzina, wah…, jangankan zina, mendekati saja tidak boleh[6]. Kamu umat Islam kan?” Agus bertanya dengan intonasi yang seakan akan mengejek.

“Iya iya, gus. Yailah, udah kaya guru agamaku aja kamu” Aryo menjawab kesal.

“Bukannya gitu yo, kan yang kamu sukai itu orangnya agamis, ya kamu juga harus memperjuangkannya dengan pendekatan agama. Ya memang aku bukan tuhan sih yang firmannya harus tolak ukur pedoman hidup. Ataupun Rasul yang sabdanya harus selalu ditaati. Aku manusia biasa yang hanya sekedar memberikan saran dan nasehat. Adapun kamu mau mengikuti atau engga itu urusanmu.” Ujar Agus.

“Oke deh, aku coba siapa tahu berhasil. Thanks ya gus“. Aryo menepuk Pundak Agus.

***

            Hari demi hari berlalu, bulan pun berganti tak terasa. Aryo dan Agus masih menjalani rutinitas seperti biasa. Kuliah, Nongkrong di kafe untuk sekedar melepas penat sembari diskusi ringan atau apalah itu. Tidak ada perubahan signifikan dalam aktivitas keseharian mereka. Namun ada yang berbeda dari penampilan mereka, terkhusus Aryo.

            Semenjak mendapatkan saran dari Agus, ia terlihat lebih alim dari sebelumnya. Penampilannya kini tak jauh berbeda dari sahabat karibnya itu. Aryo terlihat lebih sederhana, motornya ia ganti menjadi motor tua, bahkan bahasa tubuhnya pun terlihat jauh lebih ramah dari pertama kali ia masuk kuliah. Apakah itu ia lakukan demi Ulfa? Awalnya memang iya. Tapi semakin kesini, ia paham bahwa kebahagiaan tidak melulu perihal cinta. Bahkan ia merasa jauh lebih Bahagia dengan mengikuti saran Agus walaupun ia tidak, -atau mugkin belum- mendapatkan hati Ulfa.

“Yo, udah move on sama Ulfa?” Agus membuka percakapan. Kala itu mereka sedang berada di kantin fakultas.

“yah, gimana ya gus, harapan sih masih ada. Tapi kalau memang bukan rezeki ya aku gini juga sudah lebih dari bahagia kok. Ngomong-ngomong, makasihnya sarannya dulu. Emang kamu sahabatku paling top.” Ujar Aryo

“Ya memang seperti itu kewajiban sesama Muslim, harus saling mengingatkan dan menasihati.” Agus menjawab seadanya.

“Gus, aku pengen kasih tau sesuatu nih, kan aku dua minggu terakhir ini diminta kursus anak kecil belajar ngaji. Aku juga ngga tau sih kok bisa aku yang diminta. Mungkin karena penampilanku yang seperti ustaz kali ya? Walaupun sebelumnya aku ragu, tapi bismillah aku coba. Toh pencopet aja berani nekat demi sebuah kejahatan. Masa, aku ngga berani nekat demi kebaikan. Walhasil, seperti yang aku katakan tadi, dua minggu terakhir aku mengajar anak mengaji.”

“tapi yang aku heran gus, anak kecil itu pinter banget, baru 2 minggu aku ajar dia sudah iqro[7] jilid lima. Padahal anak-anak pada umumnya, dalam kurun waktu dua minggu belum tentu mereka lulus satu jilid. Dan anehnya, orang tua anak itu merasa bahwa aku yang pandai dalam mengajar anak mereka. Kata orang tuanya, dari dulu gonta-ganti guru ngaji tapi tidak pernah benar, sampai akhirnya aku yang bisa mengajari anaknya ngaji. Orang tuanya seneng banget gus. Sampe-sampe aku mau dijodohin sama kakaknya anak kecil itu. Nanti sore, aku disuruh datang ke rumahnya. Ujar Aryo yang menunjukkan raut muka yang seakan akan menunjukkan ketidaksukaannya.

“Trus Ulfa gimana, udah move on?” Agus bertanya singkat.

“itu dia masalahnya, atau aku sore ini ngga perlu datang ya gus, bilang ada acara atau apalah itu”

“tapi menurutku, kamu tetap harus datang dulu. Toh juga bisa jadi kakaknya anak tadi lebih baik dari Ulfa. Atau juga kalau misalnya kamu tidak suka kan kamu bisa menolak baik-baik. Itu lebih elegan daripada kamu menghindari pertemuan itu.” Agus memberi saran.

“Oke deh. Tapi kamu temenin ya.” Jawab aryo.

***

            Sore itu mereka berdua berangkat ke rumah anak yang biasa diajar Aryo. Tidak terlalu jauh dari kampus, hanya beberapa kilometer saja. Namun mereka berdua harus berangkat lebih awal, antisipasi jalanan macet karena sore hari merupakan jam kerja.

Sepuluh menit berselang. Mereka berdua telah sampai tujuan. Orang tua dari anak kecil yang diajar Aryo telah menunggu di dalam.

Assalamualaikum pak, sudah lama menunggu ya? Mohon maaf sedikit terlambat, tadi jalanan macet” Aryo basa basi sejenak, berusaha menghilangkan gugup yang tentusaja sebetulnya masih terlihat.

Waalaikumussalam nak, ndak papa. Silakan masuk.” Si bapak mempersilakan mereka berdua masuk.

            Di dalam, mereka berbincang hangat tentang apa saja yang terlintas dipikiran. Aryo masih terlihat gugup meskipun telah berusaha menutupinya. Beruntung Agus juga turut berkecimpung dalam obrolan ringan tersebut. Tak lama kemudian, muncul seorang Wanita mengantarkan beberapa gelas minuman untuk disuguhkan.

“Nah, ini kakaknya Radit” Radit adalah anak yang biasa belajar mengaji dengan Aryo. Si bapak memperkenalkan kakaknya Radit.

            Tentusaja pandangan Aryo juga Agus tertuju kepada wanita yang membawa minuman. Pun dengan Wanita yang meilhat kearah kedua tamunya. Dan lihatlah mereka sama sama terkejut.

“ARYO”

“ULFA” mereka memanggil bersamaan.

            Aryo betul betul tidak menyangka jika kakanya Radit adalah Ulfa, wanita yang selama ini ia cintai. Pun dengan Ulfa yang tidak mengetahui guru ngaji adiknya. Ia terlalu sibuk dengan tugas kuliahnya sehingga tidak sempat memperhatikan perihal itu. Aryo benar-benar terkejut, ternyata Wanita yang ia cintai adalah yang akan dijodohkan oleh seseorang yang telah dijadikan perantara oleh Allah. Aryo benar-benar belajar banyak dari Agus akan keagungan tuhan. “Cintai penciptanya, maka Allah mendekatkan dengan mahkluk yang kamu Cintai”.

 

 



[1] Universitas Masa Depan Cerah, yaitu salah satu kampus terbaik se-antero nusantara.

[2] Tata Usaha, Sebuah sektor dalam dunia Pekerjaan yang biasanya berkecimpung dalam urusan administrasi.

[3] Mau Ngapain sih, yo? (Bahasa Jawa).

[4] H.R. bukhori no. 5065 dan muslim no. 1400.

[5] Q.S. An nur Ayat 32.

[6] Q.S. Al Isra Ayat 32.

[7] Salah satu metode dalam mempelajari Alquran.


Berebut menyeduh kopi hitam