Rabu, 02 Oktober 2024

Nestapa Pemuda dirundung Cinta; Gara-gara terlalu jujur, alih-alih hubungan meluncur malah menjadi hancur

 


                Bersikap jujur dalam segala tindak-tanduk kehidupan adalah hal yang sangat mulia bahkan dianjurkan oleh Agama. Namun, terkadang bersikap jujur atau terlalu jujur tidak selalu berbuah manis. Salah satunya adalah pengalaman yang dirasakan oleh Setya (Bukan nama asli), seorang pemuda flamboyan yang berasal dari Bengkulu.

                Tulisan ini merupakan pengalaman teman saya (Setya) yang bersikap jujur dalam menjalin hubungan, namun justru pada akhirnya malah kandas karena sikap jujurnya. Sial betul Nasib teman saya yang satu itu. Tapi walaupun menurut dia nasibnya adalah suatu “ke-sial-an”, sejatinya apa yang dialaminya sesungguhnya memiliki hikmah yang luar biasa.

Fenomena Pacaran sebagai tren anak Muda

                Aktivitas pacaran sepertinya sudah menjadi fenomena yang lumrah dilakukan anak muda, bahkan terkesan menjadi tren. Aktivitas semacam ini sebetulnya tidak dilakukan oleh mereka mereka yang menyandang status “Pacaran” saja. Lebih dari itu, aktivitas pacaran bisa dilakukan siapa saja selama ada kesepakatan antara kedua belah pihak.

                Setidaknya terdapat beberapa istilah yang saya ketahui untuk mengelak atau menyamarkan aktivitas tersebut. Diantara contohnya seperti HTS-an (Hubungan Tanpa Status), Komitmen-an, dan modelan ta’aruf- ta’aruf atau ta’aruf berkedok pacaran. Seperti itulah kira-kira gambaran aktivitas pacaran saat ini.

Lika-liku hubungan asrama ketika pacaran

                Hubungan asmara saat pacaran sejatinya tidak selalu indah, romantis, dan menyenangkan seperti yang sekilas dapat dilihat di story whatsapp atau instastory teman-teman anda. Ada kalanya momen ngambek atau marah-marahan, cemburu, berantem, bahkan ada yang sampai putus-nyambung.

                Nah, poin terakhir inilah (putus-nyambung) yang menjadi awal masalah Setya dengan Sekar (Pacar Setya). Setya dan Sekar menjalin hubungan pacaran selama dua tahun sebelum akhirnya setya diputusin Sekar. Sebetulnya sudah biasa Setya dan Sekar berantem sampai putus-nyambung. Putus-nyambung dalam hubungan mereka adalah ketika mereka berantem, Sekar minta putus, dan ketika sudah baikan, nyambung dan pacaran lagi. Kira-kira seperti itulah hubungan mereka.

Putus untuk terakhir kalinya

                Hubungan asrama Setya dan Sekar sejatinya sudah mulai rapuh sejak tahun kedua semenjak mereka menjalin hubungan, atau tepatnya ketika Setya harus melanjutkan studi di Jogja. Hal ini memaksa mereka harus LDR Jogja-Bengkulu selama kurang lebih empat tahun dan bertemu sesekali saat setya liburan kampus. Sejak itulah intensitas berantem sampai putus-nyambung mereka bertambah sering.

                Setelah bertahan selama masa LDR yang sangat melelahkan, akhirnya tibalah mereka di momen berantem terakhir mereka yang nantinya berakhir putus dan tidak “nyambung” lagi. Seperti pada berantem-berantem sebelumnya, masalah yang menjadi sumbu keributan adalah Setya lupa memberi kabar bahwa ia pergi rapat organisasi.

Murkanya Pacar Setya

Tentu saja hal tersebut membuat pacar Setya murka, “Minimal bilang bang, apalah susahnya bilang, biar ambo idak nunggu”. Kurang lebih seperti itu kalimat chat yang dilihatkan Setya kepada saya. Sebetulnya sekedar pamit berkegiatan memang tidaklah susah. Namun, apa boleh buat? Namanya juga lupa. Nasib. Untuk kesekian kalinya Setya harus menghadapi murka Sekar.

“Abang minta maaf dek, abang lupa berkabar” Setya meminta maaf pasrah, tentu dia sudah hafal alurnya, marah, berantem, putus, nyambung lagi. Seperti itu biasanya. Maaf terus, maaf terus, udah dimaafin, bukannya berubah malah diulangi”. Saat membaca tulisan chat dari pacar Setya, saya bisa merasakan bahwa ada intonasi tinggi dan ekspresi kemarahan di dalam chat itu.

 “Namanya lupa ya mau gimana lagi dek” Setya membalas singkat. Tidak bisa dipungkiri, ia kesal. Tentu saja, bagaimana tidak? Puluhan bahkan ratusan kali menghadapi sikap Sekar yang semakin hari semakin nggak terkontrol kemarahannya. Terlebih ia Lelah, baru pulang rapat organisasi, waktu yang harusnya digunakan istirahat, malah terbuang sia-sia gara-gara Sekar marah.

“Udahlah bang kita putus aja, capek ambo”. Seperti biasa, drama mereka terulang lagi. Namun bukannya menahan, Setya membalas dengan singkat. “Oh, yaudah terserah. Sebagai laki-laki, saya dapat merasakan posisi Setya. Dia tentu sangat Lelah, entah Lelah karena baru pulang rapat organisasi, Lelah dengan hubungan mereka, atau bahkan keduanya.

Jalan dengan teman kelas

                “Terus dimana cerita intinya set?” saya bertanya Setya tidak sabaran menunggu klimaks dari tragedi hancurnya hubungan mereka. “Jadi gini mas…” Setya kemudian menceritakan apa yang terjadi setelah itu. Ternyata, beberapa hari pasca putusnya Setya dengan Sekar, ia pergi makan siang teman perempuan yang kebetulan satu kelas dengannya, Rahmi (Bukan nama asli).

                Dari cerita yang saya dapatkan langsung dari Setya, setidaknya dia sudah dua kali makan bareng dan satu kali jalan dengan Rahmi. Ketika saya tanya “kok bisa kamu secepet itu move on sama Sekar?” tentu saya heran. Pasalnya saat masih menjalin hubungan dengan Sekar, Setya terlihat sangat romantis dan sayang sama Sekar, bahkan dalam satu hari ia bisa memposting beberapa kali story whatsapp terkait kehidupan romatisme mereka berdua.

                “Ngapain lama-lama, biasa aja aku. Toh juga aku jalan sama Rahmi bukan karena ada apa-apa. Setya mengelak. Sesuai dengan namanya, Setya yang saya kenal adalah sosok yang setia. Maka wajar jika saya heran ketika Setya secepat itu bisa mendapatkan gebetan baru, terlepas dari klaim bahwa mereka (Setya dan Rahmi) tidak ada apa-apa.

                “Awas lo Set, jangan jadiin Rahmi pelarian, jangan baperin dia. Kasian lah anak orang” Saya mengingatkan Setya. “Siapa yang cari pelarian, pun aku nggak ada niatan untuk baperin dia, kalo dia baper ya itu di luar kendaliku to, aku bisa apa? kan bukan salahku juga to?” Ujarnya membela diri.

Nasib buruk, bukannya mujur malah hubungan ajur gara-gara terlalu jujur

                Selang dua minggu dari waktu putusnya Setya, Sekar menelepon Setya. Ia mohon-mohon untuk balikan sekaligus minta maaf dan berjanji tidak mengulangi. Setya sudah hafal polanya, ia kemudian memaafkan. Namun, sebelum telepon diputus, Sekar menanyakan apa saja yang dia lakukan selama dua minggu terakhir. Setya menjawab dengan polos “Ya biaso lah, kegiatan organisasi, kuliah, ngopi malam-malam, jalan-jalan, makan, tidur. Cak biaso lah. 

                “Jalan-jalan sama kawan organisasi atau kek sapo?” Sekar bertanya curiga. Setya menjawab dengan jujur nan polos “idak ado, sama kawan kelas aku.” “Tino? (Perempuan)” Sekar Kembali bertanya. “Iyo tino, kawan kelas aku.” Sambungan telepon itu lengang beberapa saat. Sampai akhirnya Sekar dengan suara yang tersedu-sedu “Udahlah bang, kita selesai ajo.”

Setya, kejujuran, dan ke-ajur-annya

                “Set, kamu ngga merasa bersalah gitu?” saya bertanya ke Setya penasaran. “Loh, kenapa saya harus merasa bersalah? Pertama, saya berkata jujur dan apa adanya. Kedua, saya sama dia kan nggak ada status apa-apa. Toh udah putus juga kan? Coba jelaskan dimana letak salahnya.” Setya membela diri.

                 “Benar juga argumen yang disampaikan Setya”. Saya mengangguk sembari mbatin. “Tapi, apakah kamu nggak nyesel? Gara-gara kamu jujur malah hubunganmu sama Sekar ajur.” Tanyaku meneilisik kepada Setya. “Sebenernya kalo dibilang nyesel, ya nyesel banget. Tapi kan memang jalannya sudah seperti ini. Ya dijalani ajalah, nanti juga ada hikmah yang bisa aku ambil” Ujar Setya.

Terus tentang hubunganmu sama Rahmi gimana? Saya bertanya penasaran. “Sementara ini nggak ada kelanjutan. Biarlah dulu lah, aku mau sendiri. Biarlah aku larut di organisasi dulu. Aku rasa organisasi adalah pelarian yang tidak buruk-buruk amat. Rasa-rasanya ingin sekali aku mengecam sikapku dulu yang terlalu jujur dengan Sekar. Tapi tentu itu nggak pantas, bagaimana mungkin aku menyalahkan sikap jujur yang luhur itu menjadi musabab hubunganku ajur? Tentu saja itu tidak pantas. Setya menjelaskan dengan raut wajah yang berubah. Tatapannya berkaca seperti menyimpan penyesalan.

“Yahh, seperti itulah kehidupan. Terkadang senang dan Bahagia, namun tak jarang juga sedih, kecewa, atau bahkan terluka. Semuanya akan berlalu seiring berjalannya waktu. Setidaknya dari kejadian ini aku belajar satu hal. Yaitu bahwa bersikap jujur itu baik, namun bersikap terlalu jujur itu naif.” Setya mengakhiri obrolan kami dengan mata yang berkaca-kaca.

 


Berebut menyeduh kopi hitam