Bersikap
jujur dalam segala tindak-tanduk kehidupan adalah hal yang sangat mulia bahkan
dianjurkan oleh Agama. Namun, terkadang bersikap jujur atau terlalu jujur tidak
selalu berbuah manis. Salah satunya adalah pengalaman yang dirasakan oleh Setya
(Bukan nama asli), seorang pemuda flamboyan yang berasal dari Bengkulu.
Tulisan
ini merupakan pengalaman teman saya (Setya) yang bersikap jujur dalam menjalin hubungan,
namun justru pada akhirnya malah kandas karena sikap jujurnya. Sial betul Nasib
teman saya yang satu itu. Tapi walaupun menurut dia nasibnya adalah suatu “ke-sial-an”,
sejatinya apa yang dialaminya sesungguhnya memiliki hikmah yang luar biasa.
Fenomena Pacaran sebagai tren anak Muda
Aktivitas pacaran sepertinya sudah menjadi fenomena
yang lumrah dilakukan anak muda, bahkan terkesan menjadi tren. Aktivitas
semacam ini sebetulnya tidak dilakukan oleh mereka mereka yang menyandang
status “Pacaran” saja. Lebih dari itu, aktivitas pacaran bisa dilakukan siapa
saja selama ada kesepakatan antara kedua belah pihak.
Setidaknya
terdapat beberapa istilah yang saya ketahui untuk mengelak atau menyamarkan
aktivitas tersebut. Diantara contohnya seperti HTS-an (Hubungan Tanpa Status),
Komitmen-an, dan modelan ta’aruf- ta’aruf atau ta’aruf berkedok
pacaran. Seperti itulah kira-kira gambaran aktivitas pacaran saat ini.
Lika-liku hubungan asrama ketika pacaran
Hubungan asmara saat pacaran sejatinya tidak
selalu indah, romantis, dan menyenangkan seperti yang sekilas dapat dilihat di story
whatsapp atau instastory teman-teman anda. Ada kalanya momen ngambek
atau marah-marahan, cemburu, berantem, bahkan ada yang sampai putus-nyambung.
Nah,
poin terakhir inilah (putus-nyambung) yang menjadi awal masalah Setya dengan Sekar
(Pacar Setya). Setya dan Sekar menjalin hubungan pacaran selama dua tahun
sebelum akhirnya setya diputusin Sekar. Sebetulnya sudah biasa Setya dan
Sekar berantem sampai putus-nyambung. Putus-nyambung dalam hubungan mereka
adalah ketika mereka berantem, Sekar minta putus, dan ketika sudah baikan,
nyambung dan pacaran lagi. Kira-kira seperti itulah hubungan mereka.
Putus untuk terakhir kalinya
Hubungan asrama Setya dan Sekar sejatinya sudah
mulai rapuh sejak tahun kedua semenjak mereka menjalin hubungan, atau tepatnya
ketika Setya harus melanjutkan studi di Jogja. Hal ini memaksa mereka harus LDR
Jogja-Bengkulu selama kurang lebih empat tahun dan bertemu sesekali saat setya
liburan kampus. Sejak itulah intensitas berantem sampai putus-nyambung mereka
bertambah sering.
Setelah
bertahan selama masa LDR yang sangat melelahkan, akhirnya tibalah mereka di
momen berantem terakhir mereka yang nantinya berakhir putus dan tidak “nyambung”
lagi. Seperti pada berantem-berantem sebelumnya, masalah yang menjadi sumbu
keributan adalah Setya lupa memberi kabar bahwa ia pergi rapat organisasi.
Murkanya Pacar Setya
Tentu saja hal
tersebut membuat pacar Setya murka, “Minimal bilang bang, apalah susahnya
bilang, biar ambo idak nunggu”. Kurang lebih seperti itu kalimat chat yang
dilihatkan Setya kepada saya. Sebetulnya sekedar pamit berkegiatan memang
tidaklah susah. Namun, apa boleh buat? Namanya juga lupa. Nasib. Untuk kesekian
kalinya Setya harus menghadapi murka Sekar.
“Abang
minta maaf dek, abang lupa berkabar” Setya meminta maaf pasrah, tentu dia
sudah hafal alurnya, marah, berantem, putus, nyambung lagi. Seperti itu
biasanya. Maaf terus, maaf terus, udah dimaafin, bukannya berubah malah
diulangi”. Saat membaca tulisan chat dari pacar Setya, saya bisa
merasakan bahwa ada intonasi tinggi dan ekspresi kemarahan di dalam chat
itu.
“Namanya lupa ya mau gimana lagi dek”
Setya membalas singkat. Tidak bisa dipungkiri, ia kesal. Tentu saja, bagaimana
tidak? Puluhan bahkan ratusan kali menghadapi sikap Sekar yang semakin hari
semakin nggak terkontrol kemarahannya. Terlebih ia Lelah, baru pulang
rapat organisasi, waktu yang harusnya digunakan istirahat, malah terbuang
sia-sia gara-gara Sekar marah.
“Udahlah
bang kita putus aja, capek ambo”. Seperti biasa, drama mereka terulang
lagi. Namun bukannya menahan, Setya membalas dengan singkat. “Oh, yaudah
terserah.” Sebagai laki-laki, saya dapat merasakan posisi Setya. Dia
tentu sangat Lelah, entah Lelah karena baru pulang rapat organisasi, Lelah
dengan hubungan mereka, atau bahkan keduanya.
Jalan dengan teman kelas
“Terus dimana cerita intinya set?” saya
bertanya Setya tidak sabaran menunggu klimaks dari tragedi hancurnya hubungan mereka.
“Jadi gini mas…” Setya kemudian menceritakan apa yang terjadi setelah
itu. Ternyata, beberapa hari pasca putusnya Setya dengan Sekar, ia pergi makan
siang teman perempuan yang kebetulan satu kelas dengannya, Rahmi (Bukan nama
asli).
Dari
cerita yang saya dapatkan langsung dari Setya, setidaknya dia sudah dua kali
makan bareng dan satu kali jalan dengan Rahmi. Ketika saya tanya “kok bisa
kamu secepet itu move on sama Sekar?” tentu saya heran. Pasalnya saat masih
menjalin hubungan dengan Sekar, Setya terlihat sangat romantis dan sayang sama Sekar,
bahkan dalam satu hari ia bisa memposting beberapa kali story whatsapp terkait
kehidupan romatisme mereka berdua.
“Ngapain
lama-lama, biasa aja aku. Toh juga aku jalan sama Rahmi bukan karena ada
apa-apa.” Setya mengelak. Sesuai dengan namanya, Setya yang saya
kenal adalah sosok yang setia. Maka wajar jika saya heran ketika Setya secepat
itu bisa mendapatkan gebetan baru, terlepas dari klaim bahwa mereka
(Setya dan Rahmi) tidak ada apa-apa.
“Awas
lo Set, jangan jadiin Rahmi pelarian, jangan baperin dia. Kasian lah anak orang”
Saya mengingatkan Setya. “Siapa yang cari pelarian, pun aku nggak ada niatan
untuk baperin dia, kalo dia baper ya itu di luar kendaliku to, aku bisa apa? kan
bukan salahku juga to?” Ujarnya membela diri.
Nasib buruk, bukannya mujur malah hubungan ajur gara-gara terlalu jujur
Selang dua minggu dari waktu putusnya Setya, Sekar
menelepon Setya. Ia mohon-mohon untuk balikan sekaligus minta maaf dan berjanji
tidak mengulangi. Setya sudah hafal polanya, ia kemudian memaafkan. Namun,
sebelum telepon diputus, Sekar menanyakan apa saja yang dia lakukan selama dua
minggu terakhir. Setya menjawab dengan polos “Ya biaso lah, kegiatan
organisasi, kuliah, ngopi malam-malam, jalan-jalan, makan, tidur. Cak biaso lah.”
“Jalan-jalan
sama kawan organisasi atau kek sapo?” Sekar bertanya curiga. Setya menjawab
dengan jujur nan polos “idak ado, sama kawan kelas aku.” “Tino? (Perempuan)”
Sekar Kembali bertanya. “Iyo tino, kawan kelas aku.” Sambungan
telepon itu lengang beberapa saat. Sampai akhirnya Sekar dengan suara yang
tersedu-sedu “Udahlah bang, kita selesai ajo.”
Setya, kejujuran, dan ke-ajur-annya
“Set, kamu ngga merasa bersalah gitu?” saya
bertanya ke Setya penasaran. “Loh, kenapa saya harus merasa bersalah?
Pertama, saya berkata jujur dan apa adanya. Kedua, saya sama dia kan nggak ada
status apa-apa. Toh udah putus juga kan? Coba jelaskan dimana letak salahnya.”
Setya membela diri.
“Benar juga argumen yang disampaikan Setya”. Saya
mengangguk sembari mbatin. “Tapi, apakah kamu nggak nyesel? Gara-gara
kamu jujur malah hubunganmu sama Sekar ajur.” Tanyaku meneilisik kepada
Setya. “Sebenernya kalo dibilang nyesel, ya nyesel banget. Tapi kan memang
jalannya sudah seperti ini. Ya dijalani ajalah, nanti juga ada hikmah yang bisa
aku ambil” Ujar Setya.
Terus tentang
hubunganmu sama Rahmi gimana? Saya bertanya penasaran. “Sementara ini
nggak ada kelanjutan. Biarlah dulu lah, aku mau sendiri. Biarlah aku larut di
organisasi dulu. Aku rasa organisasi adalah pelarian yang tidak buruk-buruk
amat. Rasa-rasanya ingin sekali aku mengecam sikapku dulu yang terlalu jujur
dengan Sekar. Tapi tentu itu nggak pantas, bagaimana mungkin aku menyalahkan
sikap jujur yang luhur itu menjadi musabab hubunganku ajur? Tentu saja itu
tidak pantas. Setya menjelaskan dengan raut wajah yang berubah. Tatapannya
berkaca seperti menyimpan penyesalan.
“Yahh,
seperti itulah kehidupan. Terkadang senang dan Bahagia, namun tak jarang juga
sedih, kecewa, atau bahkan terluka. Semuanya akan berlalu seiring berjalannya
waktu. Setidaknya dari kejadian ini aku belajar satu hal. Yaitu bahwa bersikap
jujur itu baik, namun bersikap terlalu jujur itu naif.” Setya mengakhiri
obrolan kami dengan mata yang berkaca-kaca.
