IMM merupakan “anak bungsu” yang
lahir dari persyarikatan Muhammadiyah pada 1964 silam. Ini
dikarenakan IMM adalah Organisasi otonom yang terbentuk paling akhir diantara organisasi
otonom lainnya. Kendati
statusnya sebagai “anak bungsu”, IMM seharusnya sudah dapat memberikan banyak
kontribusi, mencetak kader persyarikatan bahkan menjadi pilar Islam berkemajuan
yang berkiprah di kancah Nasional maupun Internasional. Salah satu diantara
indikatornya adalah umur IMM yang mendekati 60 tahun. Terlebih IMM Merupakan
ortom dengan ranah tertinggi dalam dunia akademisi, yaitu di Perguruan Tinggi.
Namun beberapa hal diatas yang
idealnya sudah seharusnya terjadi, malah menjadi sesuatu hal yang di
elu-elukan dan istimewa. Apabila para kader ditanya terkait “siapakah tokoh
Muhammadiyah yang sedikit-banyak memberikan kontribusi di Indonesia”, mereka
boleh jadi akan berebut dan menyebutkan banyak nama tanpa berpikir panjang.
Tetapi apabila mereka ditanya
tentang “siapakah tokoh Muhammadiyah dari IMM yang sedikit-banyak memberikan
kontribusi di Indonesia, atau paling tidak dikenal oleh khalayak ramai” mereka
akan berfikir sejenak untuk menyebutkan nama, atau bahkan mereka tidak bisa
menyebutkannya sama sekali.
Melihat kiprah alumni memang
bukanlah satu satunya jalan yang dapat digunakan untuk melihat sukses tidaknya
suatu lembaga. Tetapi hal tersebut dapat dijadikan tolak ukur dan common sense kesuksesan lembaga yang menurut penulis tidak mudah untuk
disanggah.
Tulisan ini merupakan hasil pengamatan dan analisis penulis terkait dinamika dan hiruk-piruk kontestasi kader IMM dalam ajang PEMILWA di UIN Sunan Kalijaga. Beberapa pembahasan dalam tulisan ini adalah seputar Eksistensi IMM di UIN Sunan Kalijaga, Kontestasi kader IMM dalam politik di kampus UIN Sunan Kalijaga, dan refleksi terhadap fenomena IMM UIN Sunan Kalijaga.
Eksistensi IMM di UIN Sunan Kalijaga
“Hidup segan, mati tak mau”
Mungkin kalimat itu yang tepat dilontarkan terkait kondisi IMM di UIN Sunan
Kalijaga. Pasalnya, IMM di kampus
tersebut tidak begitu memiliki eksistensi bagi para mahasiswa. Hal ini dapat
diamati dari dua pandangan, yaitu pandangan internal (Mahasiswa IMM) dan
eksternal (Mahasiswa non-IMM)
Pertama, Internal. Siapakah
kader unggulan Muhammadiyah sebenarnya? Pertanyaan tersebut mungkin tidak perlu
dilontarkan kepada para anggota IMM. Karena tentu saja secara tidak langsung
merekalah salah satu kader persyarikatan. Namun, menanggapi kata “unggulan”
dalam kalimat diatas, rasanya penulis agak keberatan untuk meng-iya-kan bahwa
IMM adalah kader unggulan Muhammadiyah.
Ini karena melihat hiruk piruk
pergerakannya yang bisa dikatakan hanya sekedar “formalitas” dalam menyelesaikan
program kerja tahunan. Bahkan dalam tubuh internal IMM UIN Sunan Kalijaga (yang
bisa dikatakan berjumlah tidak banyak) beberapa kader tidak saling mengenal
antara satu sama lain. Adapun indikator dari tidak mengenalnya antar sesama
kader ada dua hal, yaitu kader yang sangat jarang mengikuti kegiatan IMM dan
IMM itu sendiri yang tidak banyak memiliki kegiatan sehingga minim terjadi
interaksi antar kader.
Kedua, Eksternal. Dalam ranah eksternal, eksistensi
IMM juga dapat dikatakan memprihatinkan. Tidak sedikit dari mahasiswa UIN Sunan
Kalijaga yang non-IMM tidak tahu akan organisasi tersebut. Sebagian diantara
mereka mungkin ada juga yang mengetahui bahwa IMM itu hanya ada di PTM saja.
Fenomena ini juga terjadi mungkin karena pergerakan IMM kurang memberikan
pengaruh kepada khalayak ramai, atau mungkin lagi lagi karena mahasiswa
tersebut yang tidak “melek” terhadap organisasi-organisasi kampus.
Ketidak-dikenalnya IMM secara luas
tentu saja membuat hati para kader dan aktivis IMM terluka, bagaimana tidak?
Sebuah organisasi yang turut menjadi wadah mereka berproses tidak diketahui
keberadaanya oleh khalayak ramai. Namun, apakah terlukanya para aktivis ini
dapat diejawantahkan menjadi amunisi semangat sehingga bara api pergerakan IMM
dapat muncul dipermukaan kampus atau minimal tiap-tiap fakultas di UIN Sunan
Kalijaga?
Penulis rasa jawabannya adalah tidak. Jawaban tersebut didasari analisis bahwa sebenarnya mereka sadar dan bahkan kesal ketika IMM-nya tidak dikenal, namun mereka enggan melakukan hal yang membuat dikenal. Padahal sebenarnya banyak ruang celah kegiatan kampus yang dapat meningkatkan eksistensi IMM di ranah mahasiswa.
IMM dan kontestasi politik di UIN Sunan Kalijaga
Salah satu contohnya adalah ajang
tahunan PEMILWA. Sejatinya, momen tersebut adalah waktu yang tepat untuk
menunjukkan bahwa IMM itu ada dan nyata. Namun amat disayangkan bahwa kaderikadernya
menolak untuk perpartisipasi dalam momen tersebut. hal ini dapat dilihat pada
momen pemilwa tahun 2022 dan 2023. dari sekian jumlah kader IMM di UIN Sunan
Kalijaga, hanya segelintir kader saja yang mengajukan diri sebagai kandidat.
Berdasarkan data yang peneliti kutip
dari akun resmi instagram PAD atau Partai Aliansi Demokrat (https://www.instagram.com/paduinsuka/),
yaitu partai yang cenderung dekat dan mewadahi kader IMM untuk berkiprah di
dunia politik kampus adalah sebagai berikut;
|
Posisi |
2022 |
2023 |
Keterangan |
|
Senat Mahasiswa Universitas |
2 Kandidat |
- |
Menurun |
|
Senat Mahasiswa Fakultas |
5 Kandidat |
- |
Menurun |
|
Dewan Mahasiswa |
- |
1 Kandidat |
Meningkat |
|
Ketua HMPS |
3 Kandidat |
6 Kandidat |
Meningkat |
Pada tahun 2022, tidak ada satupun
kandidat dari PAD yang memenangkan PEMILWA. Sedangkan pada tahun 2023, terdapat
tiga kandidat dari PAD yang memenangkan kontestasi tersebut. Sayangnya, ketiga
pasangan calon itu bukanlah kader IMM.
Hasil tersebut menurut penulis bukanlah sesuatu yang lebih menyedihkan daripada sedikitnya kader yang berminat untuk mewakili IMM dalam kontestasi demokrasi kampus. Andaikan apabila setiap program studi terdapat kandidat dari Kader IMM sekalipun tidak memenangkannya. Paling tidak, hal tersebut sudah menunjukkan bahwa IMM di UIN Sunan Kalijaga itu ada sehingga mahasiswa non-IMM tidak mempertanyakan terkait “apa itu IMM?”
Menyoal kader IMM yang terus membadut
Terus membadutnya kader IMM dalam
perpolitikan kampus tentulah bukan tanpa alasan. Menurut hemat peneliti,
setidaknya terdapat tiga indikator yang menyebabkan terjadinya fenomena “perbadutan”
ini. Pertama, minimnya persiapan dalam menghadapi pesta demokrasi tahunan
tersebut.
Kedua, kurangnya sosialisasi dan
motivasi kepada kader untuk turut berpartisipasi dalam kontestasi PEMILWA
kampus. Ketiga, dalam ranah IMM, masih terdapat stigma buruk dan kesan “alergi”
terhadap politik. Poin terakhir ini boleh jadi merupakan problem paling alot
yang (lagi-lagi) boleh jadi merupakan dampak negatif dari poin kedua.
Apabila dilihat dalam kacamata
negatif, Politik memang cenderung kotor. Namun sebaliknya, apabila dilihat dari
sisi positifnya, politik adalah tempat yang sangat berpotensi untuk menyebar
kebaikan dan kebermanfaatan secara masif. Terlebih pemenang pada kontestasi
politik akan memangku jabatan yang memiliki otoritas dalam melakukan konstruksi
kebijakan. Tentulah akan berpotensi besar untuk menebar kebaikan dalam skala
luas.
Maka, sebagai kader IMM terkhusus
di UIN Sunan Kalijaga, mulailah untuk mencoba terjun dalam ranah politik
(Paling tidak di ranah kampus). Apabila kader-kader IMM konsisten
berpartisipasi dalam kontestasi politik, bukan tidak mungkin IMM yang
sebelumnya menjadi badut politik akan menjelma menjadi harimau buas yang
kelaparan untuk menerkam lawan politiknya. Dalam memulai sesuatu yang besar,
haruslah dimulai dengan langkah kecil yang konsisten terus bergerak maju.
Wa allāhu a’lam bi al-ṣawāb
