Rabu, 04 September 2024

Melihat IMM sebagai “badut” politik kampus

 

IMM merupakan “anak bungsu” yang lahir dari persyarikatan Muhammadiyah pada 1964 silam. Ini dikarenakan IMM adalah Organisasi otonom yang terbentuk paling akhir diantara organisasi otonom lainnya. Kendati statusnya sebagai “anak bungsu”, IMM seharusnya sudah dapat memberikan banyak kontribusi, mencetak kader persyarikatan bahkan menjadi pilar Islam berkemajuan yang berkiprah di kancah Nasional maupun Internasional. Salah satu diantara indikatornya adalah umur IMM yang mendekati 60 tahun. Terlebih IMM Merupakan ortom dengan ranah tertinggi dalam dunia akademisi, yaitu di Perguruan Tinggi.

Namun beberapa hal diatas yang idealnya sudah seharusnya terjadi, malah menjadi sesuatu hal yang di elu-elukan dan istimewa. Apabila para kader ditanya terkait “siapakah tokoh Muhammadiyah yang sedikit-banyak memberikan kontribusi di Indonesia”, mereka boleh jadi akan berebut dan menyebutkan banyak nama tanpa berpikir panjang.

Tetapi apabila mereka ditanya tentang “siapakah tokoh Muhammadiyah dari IMM yang sedikit-banyak memberikan kontribusi di Indonesia, atau paling tidak dikenal oleh khalayak ramai” mereka akan berfikir sejenak untuk menyebutkan nama, atau bahkan mereka tidak bisa menyebutkannya sama sekali.

Melihat kiprah alumni memang bukanlah satu satunya jalan yang dapat digunakan untuk melihat sukses tidaknya suatu lembaga. Tetapi hal tersebut dapat dijadikan tolak ukur dan common sense kesuksesan lembaga yang menurut penulis tidak mudah untuk disanggah.

Tulisan ini merupakan hasil pengamatan dan analisis penulis terkait dinamika dan hiruk-piruk kontestasi kader IMM dalam ajang PEMILWA di UIN Sunan Kalijaga. Beberapa pembahasan dalam tulisan ini adalah seputar Eksistensi IMM di UIN Sunan Kalijaga, Kontestasi kader IMM dalam politik di kampus UIN Sunan Kalijaga, dan refleksi terhadap fenomena IMM UIN Sunan Kalijaga.

Eksistensi IMM di UIN Sunan Kalijaga

“Hidup segan, mati tak mau” Mungkin kalimat itu yang tepat dilontarkan terkait kondisi IMM di UIN Sunan Kalijaga.  Pasalnya, IMM di kampus tersebut tidak begitu memiliki eksistensi bagi para mahasiswa. Hal ini dapat diamati dari dua pandangan, yaitu pandangan internal (Mahasiswa IMM) dan eksternal (Mahasiswa non-IMM)

Pertama, Internal. Siapakah kader unggulan Muhammadiyah sebenarnya? Pertanyaan tersebut mungkin tidak perlu dilontarkan kepada para anggota IMM. Karena tentu saja secara tidak langsung merekalah salah satu kader persyarikatan. Namun, menanggapi kata “unggulan” dalam kalimat diatas, rasanya penulis agak keberatan untuk meng-iya-kan bahwa IMM adalah kader unggulan Muhammadiyah.

Ini karena melihat hiruk piruk pergerakannya yang bisa dikatakan hanya sekedar “formalitas” dalam menyelesaikan program kerja tahunan. Bahkan dalam tubuh internal IMM UIN Sunan Kalijaga (yang bisa dikatakan berjumlah tidak banyak) beberapa kader tidak saling mengenal antara satu sama lain. Adapun indikator dari tidak mengenalnya antar sesama kader ada dua hal, yaitu kader yang sangat jarang mengikuti kegiatan IMM dan IMM itu sendiri yang tidak banyak memiliki kegiatan sehingga minim terjadi interaksi antar kader.

Kedua, Eksternal. Dalam ranah eksternal, eksistensi IMM juga dapat dikatakan memprihatinkan. Tidak sedikit dari mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang non-IMM tidak tahu akan organisasi tersebut. Sebagian diantara mereka mungkin ada juga yang mengetahui bahwa IMM itu hanya ada di PTM saja. Fenomena ini juga terjadi mungkin karena pergerakan IMM kurang memberikan pengaruh kepada khalayak ramai, atau mungkin lagi lagi karena mahasiswa tersebut yang tidak “melek” terhadap organisasi-organisasi kampus.

Ketidak-dikenalnya IMM secara luas tentu saja membuat hati para kader dan aktivis IMM terluka, bagaimana tidak? Sebuah organisasi yang turut menjadi wadah mereka berproses tidak diketahui keberadaanya oleh khalayak ramai. Namun, apakah terlukanya para aktivis ini dapat diejawantahkan menjadi amunisi semangat sehingga bara api pergerakan IMM dapat muncul dipermukaan kampus atau minimal tiap-tiap fakultas di UIN Sunan Kalijaga?

Penulis rasa jawabannya adalah tidak. Jawaban tersebut didasari analisis bahwa sebenarnya mereka sadar dan bahkan kesal ketika IMM-nya tidak dikenal, namun mereka enggan melakukan hal yang membuat dikenal. Padahal sebenarnya banyak ruang celah kegiatan kampus yang dapat meningkatkan eksistensi IMM di ranah mahasiswa.

IMM dan kontestasi politik di UIN Sunan Kalijaga

Salah satu contohnya adalah ajang tahunan PEMILWA. Sejatinya, momen tersebut adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan bahwa IMM itu ada dan nyata. Namun amat disayangkan bahwa kaderikadernya menolak untuk perpartisipasi dalam momen tersebut. hal ini dapat dilihat pada momen pemilwa tahun 2022 dan 2023. dari sekian jumlah kader IMM di UIN Sunan Kalijaga, hanya segelintir kader saja yang mengajukan diri sebagai kandidat.

Berdasarkan data yang peneliti kutip dari akun resmi instagram PAD atau Partai Aliansi Demokrat (https://www.instagram.com/paduinsuka/), yaitu partai yang cenderung dekat dan mewadahi kader IMM untuk berkiprah di dunia politik kampus adalah sebagai berikut;

Posisi

2022

2023

Keterangan

Senat Mahasiswa Universitas

2 Kandidat

-

Menurun

Senat Mahasiswa Fakultas

5 Kandidat

-

Menurun

Dewan Mahasiswa

-

1 Kandidat

Meningkat

Ketua HMPS

3 Kandidat

6 Kandidat

Meningkat

 

Pada tahun 2022, tidak ada satupun kandidat dari PAD yang memenangkan PEMILWA. Sedangkan pada tahun 2023, terdapat tiga kandidat dari PAD yang memenangkan kontestasi tersebut. Sayangnya, ketiga pasangan calon itu bukanlah kader IMM.

Hasil tersebut menurut penulis bukanlah sesuatu yang lebih menyedihkan daripada sedikitnya kader yang berminat untuk mewakili IMM dalam kontestasi demokrasi kampus. Andaikan apabila setiap program studi terdapat kandidat dari Kader IMM sekalipun tidak memenangkannya. Paling tidak, hal tersebut sudah menunjukkan bahwa IMM di UIN Sunan Kalijaga itu ada sehingga mahasiswa non-IMM tidak mempertanyakan terkait “apa itu IMM?”

Menyoal kader IMM yang terus membadut

Terus membadutnya kader IMM dalam perpolitikan kampus tentulah bukan tanpa alasan. Menurut hemat peneliti, setidaknya terdapat tiga indikator yang menyebabkan terjadinya fenomena “perbadutan” ini. Pertama, minimnya persiapan dalam menghadapi pesta demokrasi tahunan tersebut.

Kedua, kurangnya sosialisasi dan motivasi kepada kader untuk turut berpartisipasi dalam kontestasi PEMILWA kampus. Ketiga, dalam ranah IMM, masih terdapat stigma buruk dan kesan “alergi” terhadap politik. Poin terakhir ini boleh jadi merupakan problem paling alot yang (lagi-lagi) boleh jadi merupakan dampak negatif dari poin kedua.

Apabila dilihat dalam kacamata negatif, Politik memang cenderung kotor. Namun sebaliknya, apabila dilihat dari sisi positifnya, politik adalah tempat yang sangat berpotensi untuk menyebar kebaikan dan kebermanfaatan secara masif. Terlebih pemenang pada kontestasi politik akan memangku jabatan yang memiliki otoritas dalam melakukan konstruksi kebijakan. Tentulah akan berpotensi besar untuk menebar kebaikan dalam skala luas.

Maka, sebagai kader IMM terkhusus di UIN Sunan Kalijaga, mulailah untuk mencoba terjun dalam ranah politik (Paling tidak di ranah kampus). Apabila kader-kader IMM konsisten berpartisipasi dalam kontestasi politik, bukan tidak mungkin IMM yang sebelumnya menjadi badut politik akan menjelma menjadi harimau buas yang kelaparan untuk menerkam lawan politiknya. Dalam memulai sesuatu yang besar, haruslah dimulai dengan langkah kecil yang konsisten terus bergerak maju.

Wa allāhu a’lam bi al-ṣawāb

 




Berebut menyeduh kopi hitam