Sebagai
Cabang olahraga yang paling populer dikalangan masyarakat Indonesia bahkan
Dunia, Sepak bola selalu menghadirkan banyak kisah menarik dalam setiap
Perhelatannya, entah pertandingan antar sekolah, tarkam kecil-kecilan,
Pertandingan Liga Indonesia yang “kata netizen” tidak lagi lucu semenjak
bergantinya ketua umum PSSI, Laga Ujicoba biasa, sampai Pertandingan paling
bergensi seperti Piala Dunia selalu mendapatkan perhatian bagi seluruh
masyarakat.
Tidak
melulu tentang kemenangan dan kekalahan, Sepak bola juga kadang memberikan
kesan dan citra buruk. Pertandingan yang seharusnya merupakan sajian indah
untuk hiburan dan Pelepas penat, acapkali dapat memancing emosi bagi suporter
tim yang kalah. Terlebih apabila suporter tim yang menang memberikan seruan
seruan “psywar” bahkan “chant” rasis. Tentu saja hal ini akan berkali lipat
lebih membakar emosi suporter lawan. Sudah kalah, dibully pula.
Ihwal seperti ini biasanya dilakukan oleh
oknum suporter yang kurang dewasa dalam merayakan kemenangan, yang kemudian
disambut gayung oleh oknum suporter tim lawan yang juga kurang dewasa dan besar
hati menerima kekalahan tim kesayangannya. Apabila hal tersebut benar benar
terjadi, maka bisa dipastikan kemungkinan besar, alih-alih menjadi pemersatu
bangsa, malah menjadi pemecah belah. tidak jarang fenomena keributan antar
suporter di Indonesia. Salah satu contohnya, tragedy kanjuruhan yang terjadi 1
Oktober 2022 silam.
Lagi-lagi
“kata netizen”, hal ini terjadi karena SDM Suporter Indonesia Rendah. Terlepas
dari benar atau salahnya statement tersebut, tentunya setiap individu perlu
intropeksi diri dan bermuhasabah agar bisa menghadirkan sepak bola yang aman
dan ramah bagi seluruh Masyarakat.
Diluar plus minus tersebut, seperti itulah Sepak bola, selalu menghadirkan perasaan dan melibatkan emosial bagi siapapun pecintanya. Terkadang senang, sedih, marah, bahagia, takut, dan tak jarang pula kejadian kejadian dalam dunia sepak bola menghadirkan gelak tawa jenaka karena tingkah lucu suporternya. Tulisan ini akan menceritakan singkat pengalaman saya dalam menonton pertandingan sepak bola di salah satu stadion yang cukup besar.
Negoisasi Gate Keeper stadion dengan
salah oknum suporter
Kala itu saya sedang mengantre memasuki
stadion untuk melihat pertandingan tim kesayangan. Seperti Biasanya, sudah
menjadi SOP bagi panitia pelaksana pertandingan untuk memeriksa barang bawaan
suporter atau siapapun yang hendak menonton sepak bola. Dalam antrean, saya
memperhatikan tiga pemuda yang sedang diperiksa oleh gate keeper. Kebetulan
tempat berdiri saya berdiri hanya berselang lima atau orang, sehingga saya
dapat mendengarkan secara jelas obrolan mereka.
“Mas
iki rokok’e ditinggal neng kene yo, ra oleh digowo mlebu” ujar gate
keeper kepada tiga pemuda yang tertangkap basah disakunya sebungkus rokok.
Melihat atribut yang dikenakan, sepertinya ketiga pemuda tersebut merupakan
suporter tim tuan rumah.
“Yo
wegah mas, lha iki aku lagi tuku’e, isih utuh ki lho” tolak salah satu
pemuda dengan nada yang sengak sembari menunjukkan isi rokok yang masih
tersusun rapi 16 batang dan satu korek gas.
“Raiso
mas, lha iki aturan’e wes koyo ngene. Nek ra gelem rasah ndelok bal-balan.
Muleh wae kono!” Petugas gate keeper tak kalah menjawab dengan nada
yang tinggi. ia masih teguh pendirian. Sedangkan saya dan lima atau enam orang
didepan saya melihat kejadian negoisasi mereka tanpa berkomentar. Pemandangan
seperti itu sudah lumrah terjadi, biasanya suporterlah yang memenangkan
perdebatan seperti itu, namun tak jarang juga sebaliknya, dengan keterpaksaan
dan menggerutu, suporter memberikan barang barang terlarang yang memang
“ketahuan” dibawanya kepada gate keeper.
“Ngene wae
mas, nek misale tetep arep mekso digowo mlebu, ndang ben uwong jupuk’en
siji-siji terus disumet, sisa’ne tinggal neng kene” Tidak kehabisan Akal, gate keeper memberikan
negoisasi kepada ketiga pemuda tadi.
“Yowes mas” Akhirnya ketiga pemuda mengalah setelah
negoisasi alot dengan gate keeper. Melihat gate keeper yang
“tidak bersahabat” dengan kawanan suporter, orang-orang yang mengantre didepan
saya mengambil pelajaran. “suporter yang baik itu tidak akan “konangan” gate
keeper dalam gate yang sama seperti orang yang tidak bernasib mujur
sebelumnya” kurang lebih seperti itu saya menarasikan aksi-aksi gerak cepat
mereka menyelamatkan barang-barang terlarang mereka.
Dua pemuda belakang pemuda yang “konangan”
rokoknya, menyembunyikan Rokok dibawah kaos kaki, masalah bau rokok yang
nantinya tercampur dengan busuknya kaki, itu bisa dipikir belakangan, yang
penting rokoknya selamat dulu. Dan Akhirnya kedua pemuda yang menaruh rokok di
sepatu kanan dan korek gas di sepatu kiri dapat masuk membawa rokok dengan
selamat.
“Manuk Ngaceng” yang sebetulnya tidak
benar-benar “Ngaceng”
Selain rokok, ada juga barang terlarang yang
biasa dibawa oleh suporter. Barang- barang tersebut seperti senjata tajam,
minuman keras, lampu laser, flare dan lain sebagainya. Peraturan terkait
pelarangan tersebut sebenarnya sudah ditegaskan oleh PSSI. Namun oknum suporter acap kali tetep ngeyel
dan kekeuh untuk membawanya, seperti tiga pemuda yang membawa rokok,
dua pemuda dibelakangnya yang juga membawa rokok namun bernasib mujur, dan empat
orang pemuda yang sepertinya juga menyembunyikan sesuatu. Saat itu, mereka
benar-benar mengantre tepat didepan saya.
Sebelum
menghadap gate keeper keempat pemuda tersebut saling bisik-berbisik,
sepertinya karena mereka sedang Menyusun strategi. “Lagi do ngopo? Ndang
maju! delok kae lo sing ngantri wes akeh”! Belum selesai berbisik, petugas gate
keeper telah berseru kepada mereka. Dengan buru- buru dan bergegas, mereka
segera mengadap untuk diperiksa.
“Ndi
rokokmu, tinggal kene! Tanpa Basa- basi gate keeper langsung menanyakan
rokok mereka. “Mboten ngasto pak” Ujar salah satu diantara mereka.
Keempat orang tersebut menurut saya terlihat lebih santun, pasalnya dari
gerak-gerik mereka seperti seperti menunduk dan taat, terlebih mereka menjawab
pertanyaan gate keeper dengan santun dan nada yang rendah.
Selanjutnya,
gate keeper meminta mereka untuk membuka tas slempangan yang mereka
bawa. Dalam jarak yang dekat, saya juga dapat melihat dengan jelas apa saja
yang ada di tas tersebut. Terlihat seperti ada kunci motor, Handphone, Dompet,
dan sebuah buku kecil yang bertulisan “buku cepat mahir fisika”. “Masya
Allah, mantep tenan yo koe le, arep mlebu stadion wes koyo arep mlebu kelas
ujian” Demi melihat buku kecil itu, gate keeper mengapresiasi
keempat pemuda tadi yang sepertinya betul-betul orang baik. Gate keeper pun
memberikan senyuman sambil menepuk-nepuk punggung salah satu diantara mereka
dan mempersilakan masuk.
Saya
sebagai seorang masyarakat biasa yang tidak pandai pandai banget bahkan
cenderung bodoh, tentu saja saya agak bangga melihat masih ada pemuda akhir
zaman yang membawa buku pelajaran. walaupun sebenarnya entah sekedar barang
bawaan saja atau benar-benar dibaca. Apapun itu, tentu saja itu lebih baik
daripada membawa barang-barang terlarang.
Namun
sebelum keempatnya memasuki gerbang, gate keeper itu memanggil mereka
kembali. “Heh le, kuwi opo kok ketok bedo” gate keeper tersebut menunjuk
kepada dua dari empat pemuda yang terlihat ada tonjolan yang sangat menonjol di
bagian kemaluannya. Ketika dipanggil, sontak dua pemuda tersebut menutup
kemaluannya dengan kedua tangannya. sembari tertawa malu. Salah satu diantara
mereka berkata “Hehe, nganu pak. manuk kulo ngaceng”. Saya sebagai
penonton yang mengantre dibelakangnya tentu saja menahan tawa. Manuk ngaceng
dalam bahasa Indonesia artinya adalah penis yang sedang ereksi. “Kok
bisa ya, dalam keadaan gini, malah ngaceng” Kejadian saat itu menurut saya
terlihat janggal. Kok bisa-bisanya tidak ada apa-apa malah ngaceng. Namun
anehnya, petugas gate keeper malah mempersilakan masuk tanpa curiga
sedikitpun.
“Ealah le le, cah enom saiki aneh aneh, yowes
ndang mlebu kono”. Tanpa menunggu lama keempat pemuda tersebut bergegas masuk sambil
cekikikan. Selanjutnya giliran saya diperiksa oleh gate keeper. Tentu
saja tidak ada masalah dan bisa masuk dengan mudah. Hal ini karena memang saya
tidak membawa suatu apapun yang dilarang oleh panitia pelaksana pertandingan.
Setelah masuk, saya tidak serta merta melupakan kejadian ngaceng tadi, melainkan saya mengikuti mereka berempat. didepan saya, mereka terlihat tertawa lepas sekali. Setelah saya perhatikan, dua pemuda yang mengaku dirinya sedang ngaceng ternyata tidak benar-benar ngeceng melainkan mereka menyembunyikan flare dibalik resleting celananya.
Dalam batin saya menggerutu, “sialan mereka ini, saya
sudah berhusnudzon dan bangga malah jebul ngapusi gate keeper”. Ah, terkadang kita tidak bisa terlalu mudah
menilai dan menghakimi segala hal secara gegabah. Ya salah satu contohnya kasus
ini, Fenomena dimana dua orang pemuda mengaku yang “manuknya ngaceng” tapi sebetulnya tidak benar-benar “ngaceng.
